Oleh: Budi Lesmana – Kepala KPPN Garut
Bagi sebagian masyarakat, lembaga pemasyarakatan mungkin masih dipandang sekadar tempat menjalani hukuman.
Padahal, di balik tembok tinggi dan penjagaan ketat itu, terdapat proses panjang membentuk manusia agar mampu kembali hidup bermartabat di tengah masyarakat.
Di sinilah negara hadir melalui APBN untuk memastikan bahwa pemasyarakatan tidak hanya berbicara soal hukuman, tetapi juga tentang pembinaan dan harapan baru.
Baca Juga:Ridefun Sewa Motor Garut Perkuat Posisi Menjadi Salah Satu Rental Motor Terbesar di Priangan TimurGuru Beberkan Dugaan Keracunan MBG, Senjumlah Siswa Hingga Kini Masih Dilarikan ke PKM Kadungora
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) merupakan unit pemerintah di bawah Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan yang memiliki tugas membina narapidana dan anak didik pemasyarakatan agar menjadi manusia mandiri serta menjaga keamanan dan ketertiban di dalam lembaga.
Fungsi tersebut meliputi pembinaan kepribadian, pembinaan kemandirian, bimbingan sosial, hingga pengelolaan tata usaha guna mendukung reintegrasi sosial.
Sebagai salah satu mitra kerja KPPN Garut, Lapas Kelas II-A Garut pada tahun 2026 memperoleh alokasi anggaran pembinaan sekitar Rp8,3 miliar.
Sebagian besar anggaran tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi narapidana.
Namun lebih dari sekadar belanja kebutuhan dasar, APBN ternyata juga menjadi penopang penting lahirnya berbagai program pembinaan produktif yang mendorong kemandirian penghuni lapas.
Dalam kunjungan ke Lapas Garut yang diterima langsung oleh Kepala Lapas Rusdedy, terlihat bagaimana pembinaan di dalam lapas telah berkembang menjadi sebuah ekosistem pemberdayaan yang menarik.
Hingga April 2026, jumlah penghuni Lapas Garut sekitar 550 orang. Angka tersebut menurun dibanding awal tahun 2025 yang sempat mencapai sekitar 800 penghuni sehingga status over kapasitas perlahan mulai teratasi.
Kalapas Garut menjelaskan bahwa pembinaan di lapas dilakukan melalui dua pendekatan utama, yakni pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian.
Baca Juga:Diduga Keracunan MBG, Puluhan Warga dan Siswa di Kadungora Garut Alami Demam, Diare hingga KejangKeponakan Terduga Pelaku Perusakan Bantah Sejumlah Tuduhan
Pembinaan kepribadian menitikberatkan pada pembentukan mental, spiritual, dan karakter. Sementara pembinaan kemandirian diarahkan pada pendidikan dan pelatihan keterampilan usaha agar narapidana memiliki bekal ekonomi ketika kembali ke masyarakat.
Yang menarik, pembinaan tersebut tidak berhenti pada pelatihan semata. Lapas Garut membentuk berbagai unit usaha produktif yang dikelola langsung oleh para narapidana.
Sebelum ditempatkan di unit usaha, para napi terlebih dahulu diseleksi berdasarkan minat dan bakat, kemudian diberikan pelatihan bekerja sama dengan berbagai pihak seperti Balai Latihan Kerja (BLK), Dinas Koperasi, dan instansi lainnya.
