Pagi Mengajar, Sore Mengaspal: Cerita Nurjaelani, Guru PPPK Paruh Waktu yang Jadi Ojol

istimewa
Cerita Nurjaelani, Guru PPPK Paruh Waktu yang Jadi Ojol
0 Komentar

GARUT – Saat sebagian warga baru memulai aktivitas, Nurjaelani sudah lebih dulu berada di jalan. Sejak pukul 05.00 WIB, guru SMP di Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, itu menyalakan aplikasi ojek online dan mulai mencari penumpang.

Bukan tanpa alasan ia memilih pekerjaan tambahan tersebut. Penghasilan sebagai guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Karena itu, sebelum masuk sekolah dan setelah pulang mengajar, Nurjaelani kembali menyusuri jalan sebagai pengemudi ojek online.

“Ngegrab dari tahun 2024 sampai sekarang,” ujarnya.

Rutinitas itu sudah ia jalani lebih dari satu tahun. Pagi hari, ia bekerja sebagai pengemudi ojek online hingga sekitar pukul 07.00 WIB. Setelah itu, ia berangkat ke sekolah untuk menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Usai jam mengajar selesai, ia kembali turun ke jalan hingga sore hari.

Baca Juga:Disparbud Garut Siapkan E-Ticketing di Destinasi Wisata, QRIS Diuji Coba Pekan IniPemkab Garut Usulkan Jalan Pembangunan Berstatus Jalan Provinsi

“Jam 05 subuh nge-grab sampai jam 07.00. pulang sekolah jam 02.00 sampai sore nge-grab lagi,” ujarnya.

Dari pekerjaan sampingan tersebut, Nurjaelani mengaku bisa membawa pulang penghasilan bersih sekitar Rp80.000 per hari. Jumlah itu menjadi tambahan penting untuk menopang kebutuhan rumah tangga di tengah keterbatasan gaji yang ia terima sebagai guru PPPK paruh waktu.

Bagi Nurjaelani, menjadi guru tetap merupakan panggilan dan tanggung jawab yang harus dijalani. Namun, kondisi ekonomi memaksanya mencari sumber penghasilan lain. Ia tidak ingin hanya berpangku tangan ketika kebutuhan keluarga terus berjalan setiap hari.

Pada tahun 2025, Nurjaelani resmi diangkat sebagai guru PPPK paruh waktu. Ia sempat berharap status tersebut dapat memperbaiki kesejahteraannya. Namun, kenyataannya, penghasilan yang diterima masih jauh dari cukup.

“Tahun 2025 saya diangkat P3K paruh waktu. Itu juga gajinya minim. Makanya saya sampingan nge-grab,” ucapnya.

Meski harus membagi waktu antara ruang kelas dan jalanan, Nurjaelani tetap menjalani dua peran itu dengan sabar. Di sekolah, ia mendidik para siswa. Di luar sekolah, ia bekerja untuk memastikan kebutuhan keluarganya tetap terpenuhi.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Garut dapat memberikan perhatian terhadap nasib guru PPPK paruh waktu. Menurutnya, banyak guru yang masih berada dalam ketidakpastian status dan kesejahteraan.

0 Komentar