APBN Kita Support Kemandirian Narapidana di Lapas Garut

Radar Garut
Bagi sebagian masyarakat, lembaga pemasyarakatan mungkin masih dipandang sekadar tempat menjalani hukuman.
0 Komentar

Untuk mendukung usaha tersebut, dibangun pula unit pembuatan pakan ternak berbahan jagung yang dibudidayakan sendiri oleh warga binaan di lahan milik lapas maupun lahan kerja sama dengan pihak ketiga.

Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana Lapas Garut mulai membangun sistem ekonomi sirkular melalui pengelolaan sampah mandiri. Dengan jumlah penghuni dan aktivitas yang besar, produksi sampah lapas dapat mencapai lebih dari 25 ton per bulan.

Sampah anorganik dipilah dan dijual ke pengepul, sedangkan sampah organik diolah menjadi pakan maggot. Maggot tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai tambahan pakan ternak ayam, bebek, dan lele.

Baca Juga:Ridefun Sewa Motor Garut Perkuat Posisi Menjadi Salah Satu Rental Motor Terbesar di Priangan TimurGuru Beberkan Dugaan Keracunan MBG, Senjumlah Siswa Hingga Kini Masih Dilarikan ke PKM Kadungora

Ekosistem semacam ini sesungguhnya memberikan pelajaran penting bahwa kemandirian dapat dibangun bahkan dari lingkungan yang terbatas.

Di dalam lapas tumbuh model pemberdayaan yang terintegrasi: ada produksi pangan, pengolahan limbah, pelatihan kerja, hingga aktivitas ekonomi produktif. Narapidana tidak hanya dibina untuk “menjalani hukuman”, tetapi juga dipersiapkan menjadi individu produktif ketika kembali ke masyarakat.

Lebih jauh lagi, model yang diterapkan di Lapas Garut sebenarnya relevan menjadi contoh bagi masyarakat luas, baik pada skala rumah tangga maupun desa.

Konsep memanfaatkan sumber daya lokal, mengolah limbah menjadi bernilai ekonomi, membangun ketahanan pangan, dan menciptakan usaha produktif merupakan fondasi penting menuju ekonomi masyarakat yang mandiri.

Dalam konteks inilah APBN memiliki makna yang jauh lebih besar dari sekadar angka belanja negara. APBN hadir sebagai instrumen pembangunan manusia.

Dana negara yang dialokasikan ke lapas bukan semata-mata biaya operasional, tetapi investasi sosial jangka panjang. Ketika warga binaan memperoleh keterampilan, memiliki pekerjaan, dan mampu mandiri setelah bebas, maka negara sebenarnya sedang mengurangi potensi pengangguran, kemiskinan, hingga residivisme.

Keberhasilan pembinaan di lapas tidak bisa hanya diukur dari seberapa aman tembok penjara berdiri, tetapi juga dari seberapa banyak warga binaan yang berhasil kembali menjadi manusia produktif dan diterima masyarakat.

Baca Juga:Diduga Keracunan MBG, Puluhan Warga dan Siswa di Kadungora Garut Alami Demam, Diare hingga KejangKeponakan Terduga Pelaku Perusakan Bantah Sejumlah Tuduhan

Karena pada akhirnya, tujuan pemasyarakatan bukanlah membalas kesalahan masa lalu, melainkan membuka jalan masa depan yang lebih baik.APBN telah mengambil peran penting dalam proses tersebut.

0 Komentar