Kebakaran Capai 176 Hektare, Seluruh Pintu Masuk Gunung Bromo Ditutup Total Mulai Sabtu Malam

(Istimewa)
Akses masuk wilayah Taman Nasional Bromo ditutup total karena karhutla (Istimewa)
0 Komentar

RADARGARUT– Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTN TNBTS) menutup total seluruh akses kunjungan wisata ke kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, mulai Sabtu, 8 Agustus 2026, pukul 22.00 WIB.

Langkah ini diambil menyusul meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di area Kaldera Bromo yang semakin sulit dikendalikan. Penutupan berlaku untuk seluruh pintu masuk resmi menuju kawasan wisata Bromo.

Pintu-pintu tersebut meliputi Cemorolawang di Kabupaten Probolinggo, Wonokitri di Kabupaten Pasuruan, Jemplang dan Coban Trisula di Kabupaten Malang, serta Senduro di Kabupaten Lumajang. Kebijakan ini menggantikan pembatasan parsial yang diterapkan sebelumnya.

Baca Juga:Amnesty Desak Setop Program MBG: Ratusan Anak Keracunan, Sistem Gagal Lindungi Kesehatan SiswaPolisi Garut Gerebek Gudang Miras di Cibatu, 308 Botol Berbagai Merek Diamankan

Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menjelaskan penutupan total diperlukan demi efektivitas upaya pemadaman serta untuk menjamin keamanan dan keselamatan pengunjung.

“Dalam rangka efektivitas upaya pemadaman kebakaran, serta memperhatikan keamanan dan keselamatan pengunjung, kunjungan wisata Bromo dari semua pintu masuk ditutup untuk kunjungan wisata,” ujarnya.

Penutupan berlangsung hingga batas waktu yang belum ditentukan, menyesuaikan perkembangan kondisi di lapangan.

Bagi wisatawan yang telah membeli tiket secara daring untuk tanggal selama masa penutupan, pihak pengelola menyediakan opsi penjadwalan ulang (reschedule) atau pengembalian dana (refund).

Proses dapat dilakukan melalui sistem booking online resmi TNBTS dengan melengkapi formulir yang tersedia. Pelaku usaha jasa wisata juga diimbau untuk sementara tidak melakukan aktivitas di kawasan TNBTS.

Kebakaran pertama kali terdeteksi pada Senin, 3 Agustus 2026, sekitar pukul 17.00 WIB di Blok Bantengan, kawasan lereng kaldera. Pada tahap awal, luas area terbakar tercatat sekitar 7,9 hektare.

Kondisi cuaca kering, kelembaban rendah, serta angin kencang membuat kobaran api cepat menjalar dan sulit dipadamkan dari darat karena medan berupa tebing dan punggungan yang curam.

Baca Juga:Kepala BGN Minta Maaf atas Deretan Kasus Keracunan MBGPolres Garut Bongkar Kasus Pengeroyokan Viral, 21 Anak Dibawah Umur Diamankan

Luasan terus meningkat menjadi sekitar 44 hektare, kemudian 51 hektare, hingga mencapai sekitar 176 hektare per data terbaru sekitar 7–8 Agustus 2026.

Sebagian besar area terdampak berada di wilayah Kabupaten Probolinggo, dengan api yang sempat mengarah ke kawasan sekitar Bukit B29.

Dugaan sementara penyebab kebakaran mengarah pada faktor manusia, bukan alam. Titik awal api berada di jalur tradisional (jalur tikus) yang menghubungkan desa-desa setempat, seperti antara kawasan Arjosari/Ngadas dengan Ranu Pani.

0 Komentar