RADARGARUT– Amnesty International Indonesia mendesak pemerintah segera menghentikan dan mengevaluasi total program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah rentetan kasus keracunan massal yang menimpa ratusan siswa dan guru di sejumlah daerah dalam sepekan terakhir.
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menyatakan bahwa jumlah korban yang terus bertambah harus menjadi peringatan keras bagi negara.
“Berapa ratus siswa lagi yang harus menjadi korban keracunan sebelum pemerintah mau mendengar desakan tersebut?” tegas Usman dalam pernyataan tertulis pada Rabu, 5 Agustus 2026.
Baca Juga:Persib Gagal Raih Piala Presiden 2026: Persebaya Amankan Kemenangan Lewat Adu PinaltiKorban Lakalantas Bulan Juli 2026 Turun Drastis Hingga Lebih dari 20%
Ia menolak pendekatan statistik yang membandingkan jumlah korban dengan total penerima manfaat program, seperti yang pernah diklaim Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, cara berpikir tersebut keliru karena setiap anak berhak atas jaminan kesehatan yang utuh.
Data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat lebih dari 37 ribu anak sekolah menjadi korban keracunan MBG sejak program dimulai pada Januari 2025 hingga Mei 2026. Dari jumlah itu, sekitar 9.000 kasus terjadi pada periode Januari–Mei 2026 saja.
Usman menyebut program yang semula digadang-gadang sebagai solusi gizi nasional justru berubah menjadi ancaman.
“Bahkan yang terjadi di Distrik Depapre, Jayapura, mengakibatkan fasilitas kesehatan kewalahan,” ujarnya.
Kasus terbaru terjadi pada 4 Agustus 2026 di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua. Sekitar 150 anak diduga keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, Anton Mote, menjelaskan bahwa Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) Depapre sudah tidak mampu menampung pasien baru.
Gelombang korban terus berdatangan dari berbagai kampung sehingga sebagian diarahkan ke PKM dan rumah sakit terdekat. Keluhan yang muncul rata-rata mual, pusing, dan badan lemas.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tersebut menyiapkan 1.500 paket makanan untuk siswa SD dan SMP di tujuh kampung.
Baca Juga:Perwira Polisi Tabrak Balita Umur 4 Tahun Hingga Meninggal DuniaPolisi Temukan Jasad Perempuan Tanpa Identitas di Pinggir Rel Kereta Kadungora Dini Hari
Sebelumnya, pada 28 Juli 2026, setidaknya 120 murid dan guru di sebuah SMA Negeri di Jayapura mengalami gejala serupa setelah menyantap menu MBG.
Kemudian pada 31 Juli 2026, sebanyak 707 siswa dan guru di sebuah SMK Negeri di Semarang juga keracunan. Gejala yang dialami meliputi pusing, mual, muntah, dan diare.
