GARUT – Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Bima Arya Sugiarto, mengajak para wisudawan Universitas Garut untuk mampu membaca arah perubahan zaman sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.
Pesan tersebut disampaikan Bima Arya saat memberikan amanat dalam Wisuda Sarjana dan Magister Angkatan ke-XLIV Gelombang II Tahun Akademik 2025–2026 Universitas Garut, Sabtu (25/7/2026).
Dalam pidatonya, Bima menegaskan bahwa kemampuan memahami perubahan menjadi salah satu faktor penting untuk meraih kesuksesan.
Baca Juga:Operasi Malam Akhir Pekan, Polisi Amankan Miras, Knalpot Brong, dan Puluhan PremanDua Pemuda Diamankan di Pasar Mawar, Polisi Temukan Celurit dan Minuman Keras
Menurutnya, mereka yang mampu membaca tanda-tanda zaman akan lebih siap menghadapi perubahan sosial, ekonomi, teknologi, maupun dunia kerja.
“Zaman bergerak ke mana, ciri-ciri masa depan seperti apa, maka orang yang mampu membacanya akan menjadi pemenang. Sebaliknya, siapa yang lalai dan abai membaca tanda-tanda zaman tidak akan menjadi pemenang,” ujarnya.
Bima mengatakan Indonesia saat ini berada pada fase penting dalam menentukan arah masa depan. Berbagai proyeksi menunjukkan Indonesia memiliki peluang menjadi negara maju pada 2045.
Namun, peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila Indonesia mampu keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap.
Menurutnya, Indonesia telah berada dalam kategori negara berpendapatan menengah selama lebih dari tiga dekade. Karena itu, dua puluh tahun ke depan menjadi periode yang sangat menentukan.
“Indonesia hanya akan menjadi negara maju jika mampu naik kelas dalam waktu sekitar 20 tahun ke depan,” katanya.
Ia menjelaskan, salah satu modal terbesar yang dimiliki Indonesia adalah bonus demografi, yaitu kondisi ketika jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan penduduk usia nonproduktif.
Baca Juga:Geber Motor Berknalpot Brong di Jalan Ibrahim Adjie, Dua Pemuda Diamankan PolisiUIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Qurrota A’yun Perkuat Kompetensi Guru Hadapi Tantangan Abad ke-21
Saat ini, kata Bima, komposisi penduduk Indonesia banyak diisi generasi muda. Sekitar 24 persen berasal dari kalangan milenial dan sekitar 24 persen lainnya merupakan Generasi Z.
Karena itu, kualitas sumber daya manusia menjadi penentu utama keberhasilan Indonesia memanfaatkan momentum bonus demografi.
“Kalau kita lalai menyiapkan Generasi Z dan generasi muda lainnya, bonus demografi ini tidak akan membawa Indonesia ke mana-mana,” tegasnya.
Bima menggambarkan bahwa pada 2045, ketika Indonesia diproyeksikan menjadi negara maju, Generasi Z akan berada pada usia produktif dan menempati berbagai posisi strategis.
