Mereka berpotensi menjadi kepala daerah, menteri, pemimpin lembaga, pelaku usaha, akademisi, hingga pengambil kebijakan di berbagai sektor.
Sementara itu, generasi yang saat ini mendominasi berbagai bidang kehidupan akan memasuki usia lanjut.
Menurut Bima, kondisi tersebut menunjukkan bahwa investasi terbesar Indonesia saat ini bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga penyiapan generasi muda yang memiliki kompetensi, karakter kuat, daya saing, serta kemampuan beradaptasi.
Ia juga mengingatkan bahwa bonus demografi tidak berlangsung selamanya.
Baca Juga:Operasi Malam Akhir Pekan, Polisi Amankan Miras, Knalpot Brong, dan Puluhan PremanDua Pemuda Diamankan di Pasar Mawar, Polisi Temukan Celurit dan Minuman Keras
Sejumlah wilayah di Indonesia, seperti Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, mulai menunjukkan kecenderungan meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia.
“Bonus demografi ini akan berakhir. Waktu tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun. Karena itu, kesempatan yang kita miliki hari ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Bima menilai generasi muda harus terus meningkatkan kapasitas diri, menguasai keterampilan baru, serta memiliki kepekaan terhadap perkembangan global.
Ia juga mendorong para lulusan perguruan tinggi agar tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi mampu menciptakan gagasan, inovasi, dan peluang yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Pada akhir amanatnya, Bima mengajak seluruh wisudawan Universitas Garut untuk mengambil peran dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, keberhasilan Indonesia menjadi negara maju sangat bergantung pada kesiapan generasi muda dalam memanfaatkan bonus demografi dan menjawab tantangan perubahan zaman.
“Generasi muda hari ini adalah pemimpin Indonesia pada 2045. Karena itu, siapkan kompetensi, karakter, dan kemampuan beradaptasi sejak sekarang,” pungkasnya. (*)
