Demokrasi Tak Cukup Memberi Hak Pilih: Take The Lead Garut Soroti Penyandang Disabilitas yang Belum Terwakili

Radar Garut
Demokrasi Tak Cukup Memberi Hak Pilih: Take The Lead Garut Soroti Penyandang Disabilitas yang Belum Terwakili.(ist)
0 Komentar

GARUT — Demokrasi semestinya memberikan ruang yang setara bagi setiap warga untuk menyampaikan aspirasi dan terlibat dalam menentukan arah kebijakan publik.

Namun, bagi sebagian kelompok masyarakat, khususnya penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya, kesempatan tersebut masih menghadapi berbagai hambatan. Mulai dari keterbatasan aksesibilitas pelayanan publik hingga minimnya keterlibatan mereka dalam proses pengambilan keputusan.

Persoalan tersebut menjadi sorotan dalam diskusi panel Take The Lead: Empower Your Future bertema “No Voice Left Behind” yang diselenggarakan oleh Jubir Warga bersama Senyum Anak Nusantara (SAN) Chapter Garut di Dapoer Katendjo, Garut, Jumat (16/10/2026).

Baca Juga:Berdalih Jaga Diri Membawa 27 Batu, Sembilan Pemuda Diamankan Polisi Saat Patroli Dini HariMenyemaikan Damai di Rumah Ibadah, Polres Garut Merawat Kerukunan di Gereja Advent

Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan bagi anak muda, pegiat komunitas, dan pemerhati kebijakan untuk membahas bagaimana demokrasi dapat diwujudkan secara lebih inklusif, tidak hanya dalam pemenuhan hak politik, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Diskusi ini berangkat dari kenyataan bahwa besarnya jumlah pemilih muda belum tentu berbanding lurus dengan keterlibatan mereka dalam menentukan kebijakan.

Berdasarkan data Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB) KPU Semester I 2026 yang dirujuk dalam kegiatan ini, Generasi Z dan Milenial mencakup 56,69 persen dari total 214.354.667 pemilih nasional.

Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi anak muda dalam demokrasi. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa mereka tidak hanya hadir sebagai pemilih, tetapi juga memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi, mengawal isu publik, dan terlibat dalam proses perubahan.

Tantangan tersebut menjadi semakin kompleks ketika berbicara tentang penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya.

Dalam praktiknya, mereka masih berhadapan dengan situasi ketika hak yang telah dijamin secara hukum belum sepenuhnya didukung oleh fasilitas, pelayanan, dan sistem yang aksesibel.

Akibatnya, kesetaraan yang seharusnya menjadi bagian mendasar dari demokrasi belum selalu dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga:Ahab Sihabudin Dorong Perda Pemajuan Kebudayaan Jabar Beri Dampak Nyata dan Kesejahteraan MasyarakatSyakur Janjikan Penambahan Anggaran TPA Pasir Bajing

Pengalaman Lapangan Menunjukkan Tantangan Aksesibilitas

Dalam sesi diskusi, Mughi, seorang guru Sekolah Luar Biasa (SLB) sekaligus pendiri Komunitas All Inclusive Garut, membagikan pengalaman mengenai kehidupan dan perjuangan teman-teman penyandang disabilitas di Garut.

Ia menceritakan bagaimana sejumlah anggota komunitas tetap berkarya, mengembangkan kapasitas diri, dan mengambil peran di tengah masyarakat meskipun masih menghadapi berbagai hambatan.

0 Komentar