Demokrasi Tak Cukup Memberi Hak Pilih: Take The Lead Garut Soroti Penyandang Disabilitas yang Belum Terwakili

Radar Garut
Demokrasi Tak Cukup Memberi Hak Pilih: Take The Lead Garut Soroti Penyandang Disabilitas yang Belum Terwakili.(ist)
0 Komentar

Melalui Take The Lead: Empower Your Future, peserta diajak untuk melihat demokrasi dari perspektif yang lebih luas: bukan hanya mengenai siapa yang memenangkan pemilu, tetapi juga mengenai siapa yang memperoleh kesempatan untuk didengar dan dilibatkan setelah proses pemilihan berlangsung.

Anak muda memiliki peran strategis untuk mengawal persoalan tersebut. Mereka dapat memulai dengan mendengarkan pengalaman kelompok yang berbeda, membangun ruang diskusi yang terbuka, menyebarkan pemahaman yang tepat mengenai hak-hak warga, serta mendorong agar kebutuhan kelompok rentan masuk dalam pembicaraan publik.

Peran tersebut membutuhkan keterlibatan yang berkelanjutan, bukan sekadar perhatian yang muncul menjelang pemilu.

Baca Juga:Berdalih Jaga Diri Membawa 27 Batu, Sembilan Pemuda Diamankan Polisi Saat Patroli Dini HariMenyemaikan Damai di Rumah Ibadah, Polres Garut Merawat Kerukunan di Gereja Advent

Kolaborasi antara gerakan anak muda, komunitas akar rumput, dan peneliti kebijakan juga menjadi penting agar pengalaman di lapangan dapat terhubung dengan pembahasan kebijakan.

Dengan begitu, cerita yang selama ini hanya terdengar di lingkup komunitas memiliki peluang lebih besar untuk menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan arah perubahan.

No Voice Left Behind: Perubahan Harus Dibangun Bersama

Melalui kegiatan ini, Jubir Warga dan SAN Chapter Garut berharap tercipta ruang dialog dua arah yang inklusif, tempat anak muda dan kelompok rentan dapat menyampaikan pengalaman, kebutuhan, serta gagasan mereka secara bermakna.

Diskusi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa membangun demokrasi yang inklusif membutuhkan kesediaan untuk mendengar suara yang selama ini kurang memperoleh ruang.

Tema “No Voice Left Behind” membawa pesan bahwa tidak boleh ada warga yang tertinggal dalam proses demokrasi hanya karena kondisi disabilitas, latar belakang sosial, atau keterbatasan akses yang mereka hadapi.

Suara setiap orang perlu mendapat ruang, sementara sistem dan kebijakan harus terus diperbaiki agar partisipasi tidak berhenti sebagai formalitas.

Pada akhirnya, demokrasi yang inklusif bukan sekadar demokrasi yang memberikan hak kepada semua orang di atas kertas. Demokrasi harus mampu menghadirkan kesempatan nyata bagi setiap warga untuk berpartisipasi, menyampaikan aspirasi, dan ikut menentukan masa depan bersama.

Baca Juga:Ahab Sihabudin Dorong Perda Pemajuan Kebudayaan Jabar Beri Dampak Nyata dan Kesejahteraan MasyarakatSyakur Janjikan Penambahan Anggaran TPA Pasir Bajing

Sebab, perubahan yang bermakna bukan hanya perubahan yang dirancang untuk kelompok rentan, melainkan perubahan yang dibangun bersama mereka.(*)

0 Komentar