Salah satu pengalaman yang disoroti adalah perjalanan seorang tunanetra yang tercatat sebagai angkatan pertama lulusan kuliah di Universitas Garut pada 2017.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa penyandang disabilitas memiliki kesempatan untuk berkembang dan berkontribusi ketika memperoleh ruang yang mendukung.
Namun, persoalan tidak berhenti pada kemampuan individu untuk beradaptasi. Lingkungan dan sistem pelayanan publik juga perlu berubah agar tidak menempatkan seluruh beban penyesuaian pada penyandang disabilitas.
Baca Juga:Berdalih Jaga Diri Membawa 27 Batu, Sembilan Pemuda Diamankan Polisi Saat Patroli Dini HariMenyemaikan Damai di Rumah Ibadah, Polres Garut Merawat Kerukunan di Gereja Advent
Mughi turut mengangkat pengalaman seorang anggota komunitas tunawicara yang mengalami kesulitan ketika mengurus pajak kendaraan. Tanpa pendampingan juru bahasa isyarat, ia harus berpindah dari satu loket ke loket lain dan mengandalkan komunikasi tertulis, sementara petugas berbicara dengan cepat.
Pengalaman tersebut menggambarkan bahwa pelayanan yang tampak sederhana bagi sebagian orang dapat menjadi proses yang panjang dan melelahkan bagi orang lain ketika kebutuhan aksesibilitas belum diperhatikan.
Cerita tersebut menjadi pengingat bahwa inklusivitas tidak cukup diwujudkan melalui penerimaan secara sosial atau keberadaan aturan semata. Inklusivitas perlu hadir dalam bentuk layanan yang mudah diakses, komunikasi yang dapat dipahami, fasilitas yang memadai, serta petugas yang memiliki pemahaman terhadap kebutuhan penyandang disabilitas.
Dari Kerja Komunitas hingga Persoalan Kebijakan Publik
Persoalan kelompok rentan juga berkaitan erat dengan akses terhadap pendidikan dan kesejahteraan. Rofi Alfikri, Koordinator SAN Jawa Barat yang sebelumnya memimpin SAN Chapter Garut, menyoroti masih adanya anak-anak di Kabupaten Garut yang belum memperoleh dukungan memadai untuk melanjutkan pendidikan dan mengembangkan kemampuan mereka.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan penting bagi SAN untuk terus menghadirkan gerakan kerelawanan yang berfokus pada kesejahteraan anak. Melalui keterlibatan masyarakat dan kolaborasi dengan berbagai pihak, komunitas berupaya membawa persoalan pendidikan dan kesejahteraan anak agar mendapatkan perhatian yang lebih luas.
Pengalaman komunitas memperlihatkan bahwa persoalan sosial tidak selalu dapat diselesaikan melalui intervensi sesaat. Diperlukan kepedulian yang berkelanjutan, ruang partisipasi bagi masyarakat, serta dukungan kebijakan yang mampu menjawab kebutuhan kelompok yang selama ini kurang terwakili.
Dalam konteks tersebut, keterlibatan anak muda menjadi penting. Energi dan gagasan generasi muda perlu diarahkan tidak hanya untuk menjalankan kegiatan sosial, tetapi juga untuk memahami akar persoalan, mengkritisi kebijakan yang belum berpihak, serta membangun kolaborasi yang mendorong perubahan nyata.
