Sekda Garut: Santri Harus Kuasai Teknologi dan Bisa Jadi Pemimpin Bangsa

Upacara Hari Santri Nasional di Kabupaten Garut. (Rizka/Radar Garut)
Upacara Hari Santri Nasional di Kabupaten Garut. (Rizka/Radar Garut)
0 Komentar

GARUT – Peringatan Hari Santri Nasional, yang diperingati setiap 22 Oktober menjadi momentum untuk memperkuat peran santri dalam menjaga nilai-nilai keagamaan, kebangsaan, serta mendorong pembangunan di tengah masyarakat.

Di Kabupaten Garut, momentum ini juga menjadi pengingat pentingnya kontribusi pesantren dalam mencetak generasi muda yang berilmu, berakhlak, dan mampu menghadapi tantangan zaman.

Peringatan Hari Santri Nasional ini, mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, yang mengandung pesan penting bahwa santri memiliki tanggung jawab besar dalam menentukan masa depan bangsa.

Baca Juga:Perbaikan Pasar Andir Garut Butuh Rp1,5 Miliar, Bantuan Stimulan Finansial Ke Pedagang Masih Diupayakam5.806 Warga Garut Belum Pernah Terima Bantuan Apapun, Dinsos Catat Kuota Balebat Hanya Untuk 1.000 KK

Sekretaris Daerah Kabupaten Garut, Nurdin Yana, dalam amanatnya mengatakan momentum hari santri menjadi sebuah makna untuk mengenang para ulama dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Sejarah mencatat resolusi jihad yang dimaklumatkan oleh Kiai Haji Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945 telah membangkitkan semangat perjuangan untuk Islam,” ujarnya.

Ia menyampaikan, semangat perjuangan umat Islam tersebut mencapai puncaknya dalan peristiwa 10 November 1945 yang diperingati sebagai Hari Pahlawan.

“Peristiwa tersebut mengajarkan kepada kita bahwa santri bukan hanya penjaga nilai-nilai agama, melainkan juga bagian penting dari perjalanan bangsa,” ucapnya.

Dengan demikian, untuk mengenang jasa para pendahulu tidak cukup hanya dengan ucapan maupun seremonial, namun harus melanjutkan perjuangan melalui pengabdian, karya, maupun kontribusi nyata.

“Di sinilah para santri harus mengambil peran penting. Santri tidak boleh merasa kecil, tidak boleh membatasi diri. Santri bisa menjadi apa saja, mulai dari ulama, ilmuwan, pendidik, pengusaha, hingga pemimpin bangsa,” ucap Nurdin.

Maka dari itu, Nurdin meminta para santri kuasai ilmu agama sekaligus ilmu pengetahuan dan teknologi, pelihara tradisi pesantren, dan jangan takut akan perubahan zaman.

Baca Juga:Harga Cabai Rawit Hijau Melonjak Hingga 17,8 Persen, Pasokan di Garut Belum OptimalLiquid Vape Jadi Ancaman, Desak APH dan BNN Lakukan Penindakan

“Jadilah generasi yang teguh memegang nilai-nilai keislaman, terbuka terhadap kemajuan, serta mampu menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat. Sebab, bangsa yang kuat membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga jujur, berintegritas, dan memiliki kepedulian terhadap sesama,” katanya.

Nurdin menjelaskan, bahwa pesantren memiliki kekuatan besar dalam membangun karakter bangsa, dalam pesantren ilmu diajarkan, akhlak dibentuk, kemandirian ditumbuhkan, dan pengabdian ditanamkan.

0 Komentar