GARUT – Pemerintah Kabupaten Garut, saat ini tengah menjalin kerjasama dengan pihak industri dari Korea Selatan, untuk mengembangkan teknologi budidaya Stroberi berkualitas tinggi.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Ardhy Firdian, mengatakan di Garut sendiri berdasarkan populasi Stroberi atau luasan tanamnya hanya mencapai 140 hektare, dan hanya ada di Kecamatan Malangbong, Desa Barudua.
Menurutnya, hasil pengamatan stroberi di Desa Barudua memang masyarakat setempat sudah dari sejak lama mengusahakan untuk mengembangkan Stroberi.
Baca Juga:Tunggakan BPJS Kesehatan Lansia Disorot, Minta Dasar Tagihan Dibuka TransparanPemanfaatan Teknologi Pertanian Baru 40,35 Persen, Distan Akui Masih Tertinggal
Namun, menurut informasi terakhir dilapangan terjadi penurunan kualitas benih. “Hanya memang informasinya, itu ada sedikit penurunan terkait dengan kualitas benih yang mereka gunakan,” ujarnya.
Ia menyampaikan, untuk benih sendiri biasanya dalam satu kali penanaman itu bisa bertahan hingga 3 sampai 5 tahun, namun sekarang hanya bertahan sampai 1 tahun.
“Nah sekarang itu mereka hanya bisa bertahan paling kuat itu ya 1-2 tahun,” ucapnya.
Ardhy menjelaskan, faktor yang mengalami penurunan tersebut akibat belum dikembangkan kultur untuk perbaikan perbenihan. Jadi, masyarakat setempat masih menggunakan benih lama.
“Ketika mereka awal mulai mengembangkan Strawberry itu terus mereka gunakan sampai sekarang, dan itu belum ada perbaikan,” jelasnya.
Tak hanya itu, kata Ardhy, sesuai pengakuan dilapangan pun Benih Stroberi belum ada perbaruan, artinya masih menggunakan benih yang ada.
“Karena kalau strawberry kan lebih relatif mudah untuk benihnya itu, jadi mereka tinggal mengambil stack yang ada, dibenihkan lagi, itu bisa jadi,” sambungnya.
Baca Juga:Disdik Garut Verifikasi 46 Ribu Data ATS dan APS, LCC-LCT hingga POPKAB Jadi Bagian Upaya Perkuat PendidikanSetahun Tinggal di Gubuk, Didin Rudini Dievakuasi ke Rumah Singgah Dinsos Garut
Dengan begitu, hal tersebut menjadi kelemahan masyarakat Barudua, dan biasanya untuk benih jika sudah beberapa kali digunakan otomatis akan mengalami penurunan kualitas.
“Ya pasti ada penurunan kualitas generatif, jadi ya secara otomatis pasti menurunkan kualitas atau produktivitas dari tanamannya itu sendiri,” lanjutnya.
Maka dari itu, hal tersebut menjadi perhatian serius bagi Distan Garut, serta jika ada penawaran kerjasama teknologi terkait perbenihan dengan Korea ataupun Jepang akan siap diterima.
“Artinya kalau memang ini kaitannya untuk perbaikan benih yang ada di wilayah tersebut, ya insyalah itu akan kita dampingi oleh Pemerintah Daerah,” ungkap Ardhy.
