GARUT – Pemanfaatan teknologi di sektor pertanian Kabupaten Garut dinilai masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara maju seperti Jepang dan Korea. Berdasarkan data Sensus Pertanian 2023 yang disampaikan Dinas Pertanian Kabupaten Garut, pemanfaatan teknologi oleh petani baru berada di kisaran 40,35 persen.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Ardhy Firdian, mengakui perkembangan teknologi pertanian di Indonesia, termasuk Garut, masih perlu terus ditingkatkan.
“Ya mungkin jangan jauh-jauh, dengan negara tetangga kita mungkin juga kita masih jauh,” ujar Ardhy saat ditemui di ruang kerjanya belum lama ini.
Baca Juga:Ditinggal Pegawai Saat Bakar Sampah, Gudang Rongsok di Bayongbong Garut Ludes TerbakarCKG Ungkap Banyak ASN Garut Alami Obesitas
Menurut Ardhy, angka pemanfaatan teknologi tersebut menunjukkan sebagian besar aktivitas budidaya pertanian masih dilakukan secara konvensional.
“Berdasarkan data Sensus Pertanian tahun 2023, pemanfaatan teknologi itu sekitar 40,35 persen. Jadi sisanya masih melakukan usaha budidaya pertanian secara manual,” jelasnya.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi sektor pertanian Garut. Sebab, penggunaan teknologi memiliki keterkaitan erat dengan peningkatan efisiensi dan produktivitas usaha tani.
“Artinya memang kalau semakin tinggi pemanfaatan teknologi itu, produktivitas usaha budidaya pertanian akan semakin tinggi,” katanya.
Ardhy menyebut terdapat sejumlah faktor yang membuat pemanfaatan teknologi pertanian belum optimal.
Salah satunya adalah kemampuan sumber daya manusia. Petani membutuhkan pengetahuan dan keterampilan untuk dapat mengoperasikan teknologi pertanian secara tepat.
Selain itu, persoalan modal masih menjadi hambatan utama.
“Kalau kaitannya dengan teknologi, tentu diperlukan sumber daya manusia yang memiliki keahlian. Yang kedua jelas ada faktor modal, itu yang menjadi salah satu kendala di sektor pertanian,” ungkapnya.
Baca Juga:Lahan Pembangunan Sekolah Rakyat di Samarang Garut DimatangkanPersoalan PKL di Garut Masih Belum Rampung, Tata Ruang Jadi Sorotan
Tidak semua petani, kata Ardhy, memiliki kemampuan finansial untuk membeli maupun mengakses peralatan pertanian modern.
Padahal, Kabupaten Garut telah mengenal berbagai jenis alat pertanian, mulai dari alat pengolahan tanah, teknologi pascapanen, hingga sarana budidaya seperti greenhouse.
“Tapi memang itu kan tidak semua punya, karena untuk memiliki alat tersebut dibutuhkan modal,” ujarnya.
Selain alat dan mesin pertanian, Ardhy menilai teknologi juga berkaitan dengan penggunaan benih unggul.
Menurutnya, kualitas benih menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan hasil pertanian, baik pada komoditas tanaman pangan, hortikultura, maupun perkebunan.
