Setahun Tinggal di Gubuk, Didin Rudini Dievakuasi ke Rumah Singgah Dinsos Garut

Dewan Yudha Saat mengevakuasi warga Kecamatan Banyuresmi ke rumah singgah Dinsos Garut. (Feri/Radar Garut)
Dewan Yudha Saat mengevakuasi warga Kecamatan Banyuresmi ke rumah singgah Dinsos Garut. (Feri/Radar Garut)
0 Komentar

GARUT — Setelah sekitar setahun bertahan hidup di sebuah gubuk di tengah kebun bambu, Didin Rudini akhirnya dievakuasi dan dibawa ke rumah singgah Dinas Sosial Kabupaten Garut.

Warga Kampung Renjeng RW 09, Desa Karyamukti, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, tersebut selama ini hidup seorang diri dalam kondisi yang memprihatinkan.

Terlebih, penyakit stroke yang dideritanya membuat Didin tidak lagi mampu berjalan.

Baca Juga:Ditinggal Pegawai Saat Bakar Sampah, Gudang Rongsok di Bayongbong Garut Ludes TerbakarCKG Ungkap Banyak ASN Garut Alami Obesitas

Kebutuhan makan sehari-hari pun selama ini dipenuhi dari pemberian warga sekitar. Sementara tempat yang menjadi kediamannya hanya berupa gubuk sederhana dengan lantai tanah dan fasilitas yang sangat terbatas.

Kondisi tersebut mendapat perhatian Anggota DPRD Kabupaten Garut, Yudha Puja Turnawan. Pada Kamis (17/9/2026), Yudha bersama Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kabupaten Garut, Dinas Ketahanan Pangan, Pemerintah Kecamatan Banyuresmi, Pendamping Sosial Desa Karyamukti, serta Kepala Desa Karyamukti Enjah mendatangi lokasi.

Dalam kunjungan itu, Didin kemudian dievakuasi untuk mendapatkan penanganan dan asesmen lebih lanjut melalui rumah singgah milik Dinas Sosial Kabupaten Garut.

Yudha menjelaskan, Didin sebenarnya merupakan warga asli Karyamukti. Setelah menikah, ia kemudian tinggal di Kampung Citata, Desa Dahiyang, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya.

“Pak Didin ini sebenarnya asli sini, cuma berumah tangga di Tasikmalaya. Sepertinya beliau dibuang dan ditelantarkan. Sekitar setahun lalu beliau pulang ke sini. Waktu pulang masih bisa berjalan, tetapi sekarang kondisinya sakit, tidak bisa berjalan dan mengalami stroke,” ujar Yudha.

Menurut Yudha, kondisi tempat tinggal Didin menjadi salah satu alasan utama dirinya perlu segera mendapatkan penanganan. Selain tidak layak untuk dihuni, Didin juga harus tidur langsung di atas lantai tanah.

Keterbatasan sarana di gubuk tersebut turut membuat Didin kesulitan memenuhi kebutuhan kebersihan dirinya sehari-hari.

Baca Juga:Lahan Pembangunan Sekolah Rakyat di Samarang Garut DimatangkanPersoalan PKL di Garut Masih Belum Rampung, Tata Ruang Jadi Sorotan

“Beliau tinggal di gubuk atau saung di kebun bambu yang sangat tidak layak huni. Bahkan tidurnya di lantai tanah. Untuk makan saja mengandalkan pemberian warga sekitar,” katanya.

Atas kondisi itu, Yudha kemudian melakukan koordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Garut agar Didin dapat dibawa ke rumah singgah.

Langkah tersebut dilakukan karena Didin dinilai tidak memungkinkan untuk terus tinggal seorang diri di lokasi tersebut.

0 Komentar