Lanjutnya, untuk pengembangan budidaya Stroberi di Garut hanya ada di Desa Barudua saja, namun diwilayah lain seperti di dataran tinggi atau lokasi dingin ada yang mengembangkan, tapi tidak sebanyak dan semasif di Barudua.
“Yang cocok yang pernah saya lihat itu di daerah Samarang, Pasirwangi, di daerah dingin dataran tinggi juga seperti Cikajang ada yang mengembangkan, tapi memang belum yang semasif di daerah Barudua,” lanjut Ardhy.
Ia memaparkan, di Desa Barudua dengan luasan lahan sekitar 100 tumbak tersebut bisa menghasilkan 20 sampai 30 kilo persatu kali panen.
Baca Juga:Tunggakan BPJS Kesehatan Lansia Disorot, Minta Dasar Tagihan Dibuka TransparanPemanfaatan Teknologi Pertanian Baru 40,35 Persen, Distan Akui Masih Tertinggal
“Ya itu dalam kurun waktu hampir setiap hari katanya panen, karena kan itu terus berbuah setiap hari. Memang kecil luas tanahnya, tapi mereka tiap hari bisa panen,” paparnya.
Ardhy menambahkan, dalam kondisi musim kemarau ini pun tidak ada kendala dengan hasil panen, dikarenakan wilayah Barudua sudah ada sumber air yang bisa dimanfaatkan.
“Kalau saya kira di sana itu kan memang koncinya ada sumber air yang mereka manfaatkan, jadi itu relatif lebih aman, lebih bagus, jadi lebih konsisten terhadap produksinya,” tutupnya. (*)
