Jaga 856 Hektare Hutan, Desa Sukamurni Garut Kembangkan Wisata Berbasis Kearifan Leluhur Sunda

istimewa
Jaga 856 Hektare Hutan, Desa Sukamurni Garut Kembangkan Wisata Berbasis Kearifan Leluhur Sunda
0 Komentar

GARUT – Desa Sukamurni di kaki Gunung Cikuray, Kabupaten Garut, mulai mengembangkan konsep pariwisata yang tidak biasa. Alih-alih membangun berbagai wahana untuk menarik kunjungan wisatawan secara massal, masyarakat setempat justru menjadikan pelestarian hutan, tradisi leluhur, dan kehidupan sehari-hari sebagai daya tarik utama.

Pengembangan wisata tersebut berangkat dari upaya masyarakat menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan kelestarian lingkungan di kawasan Perhutanan Sosial seluas 856 hektare.

Melalui Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Berkah Tani, masyarakat menerapkan pengetahuan tata ruang tradisional Sunda yang dikenal dengan metode Patanjala. Prinsip tersebut menjadi dasar untuk menentukan kawasan yang boleh dimanfaatkan dan wilayah yang harus tetap dilindungi.

Baca Juga:Taktik Jitu Igor Tolic Bawa Persib Ukir Sejarah di Australia, Menalo Ungkap Kunci Kebangkitan Maung BandungDari Becak Listrik hingga Bunga untuk Pengendara, Polantas di Garut Mengajak Warga Tertib Berlalulintas

Ketua LPHD Berkah Tani, Hendra Anggara, mengatakan dari total 856 hektare kawasan Perhutanan Sosial yang dikelola, hanya sekitar 180 hektare yang ditetapkan sebagai kawasan produksi atau baladahan.

Sementara itu, sebagian besar lahan lainnya dipertahankan sebagai kawasan tutupan dan larangan untuk menjaga fungsi ekologis hutan.

Keterbatasan lahan produksi tersebut justru mendorong masyarakat mencari peluang ekonomi alternatif tanpa harus memperluas pemanfaatan kawasan hutan.

Salah satu langkah yang kemudian dikembangkan adalah menghadirkan kegiatan wisata berbasis pengetahuan lokal, dengan menjadikan kehidupan masyarakat Sunda sebagai pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung.

“Jadi bukan desa wisata, yang dikembangkan wisata desa. Yang kita tawarkan pada wisatawan tata nilai masyarakat Sunda, terutama dalam hal hubungan dengan alam,” ujar Hendra.

Menurutnya, konsep wisata desa memiliki pendekatan berbeda dengan pengembangan destinasi wisata pada umumnya.

Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga diajak memahami bagaimana masyarakat Sunda mengenali karakteristik lingkungan, menentukan tata ruang, hingga menjaga kawasan yang menjadi sumber kehidupan.

Baca Juga:Comeback Dramatis di Australia! Persib Bandung Taklukkan Melbourne Victory 2-1 dan Pastikan Tiket 16 Besar ACLPMII Garut Sindir Dispora Jadi 'Dispornak', Karena Anggarkan Rp2,8 Milyar untuk Hewan Ternak

Hendra menjelaskan, pengelolaan kawasan hutan Desa Sukamurni berkaitan erat dengan pengetahuan masyarakat Sunda yang diwariskan melalui tradisi dan naskah kuno.

Salah satunya adalah Amanat Galunggung yang dikaitkan dengan penamaan Gunung Cikuray sebagai Gunung Larang Srimanganti.

Dalam pemahaman masyarakat Sunda, kawasan gunung tersebut memiliki nilai penting karena menjadi bagian dari wilayah yang berfungsi menjaga keseimbangan alam dan sumber daya air.

0 Komentar