Manipulasi Identitas dan Kejanggalan Data di Balik Gerakan "BEM Bersatu"

(Istimewa)
Jubir BEM Bersatu, Rahmat Djimbula (Istimewa)
0 Komentar

RADARGARUT– Sebuah konferensi pers yang digelar oleh kelompok mengatasnamakan “BEM Bersatu” di Utan Kayu, Jakarta Timur, memicu kontroversi.

Kelompok yang terdiri dari 14 orang tersebut melayangkan kritik tajam terhadap gerakan mahasiswa yang marak belakangan ini. Mereka menuding gerakan tersebut telah kehilangan arah, minim kajian, lemah dalam berargumentasi, serta rentan ditunggangi oleh kepentingan politik praktis.

Namun, narasi yang dibangun BEM Bersatu langsung menuai bantahan keras. Sehari setelah konferensi pers, tiga organisasi mahasiswa yang namanya dicantumkan sebagai peserta menyatakan bahwa nama lembaga mereka telah dicatut.

Baca Juga:Dulu Jadi Ikon Reformasi Masa Orba, Budiman Sudjatmiko Kini Dicap Penjilat RezimPolres Garut Jemput DPO Kasus Pengeroyokan Di Kalimantan Tengah

Ketiga organisasi tersebut adalah BEM KM Institut STIAMI, BEM Fakultas Psikologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dan BEM Fakultas Teknik dan Informatika Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI).

Mereka menegaskan tidak pernah hadir, mengirimkan delegasi, ataupun memberikan mandat kepada kelompok tersebut.

Bantahan ini juga menguak sejumlah kejanggalan internal pada daftar hadir BEM Bersatu. BEM KM STIAMI memastikan bahwa lembaga bernama “BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Manajemen Administrasi” yang tertulis di daftar hadir sebenarnya tidak ada di kampus mereka.

Sementara itu, BEM FTI UBSI menyatakan tidak memiliki pengurus bernama “Ahmad” seperti yang diklaim sebagai perwakilan mereka dalam acara tersebut.

Sorotan Taktik Politik dan Dugaan Akses Data Ilegal

Kemunculan kelompok ini dinilai menyerupai pola gerakan tandingan era pasca-Reformasi, mirip dengan fenomena “mahasiswa moderat” yang mendadak muncul untuk membela kebijakan pemerintah saat pembahasan Omnibus Law Cipta Kerja dan revisi KUHP beberapa tahun lalu.

Pola ini kerap dipandang sebagai proksi kepentingan elite atau bagian dari praktik competitive authoritarianism (otoritarianisme kompetitif), di mana ruang publik dimanipulasi melalui representasi semu guna memecah fokus masyarakat sipil dan mengaburkan keabsahan suara kritis yang asli.

Selain masalah legitimasi organisasi, konferensi pers BEM Bersatu juga memicu kecurigaan serius terkait isu perlindungan data pribadi. Dalam pernyataannya, BEM Bersatu menyerang personal mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, terkait tudingan kedekatan dengan jaringan politik tertentu dan penggalangan kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis.

Baca Juga:Pernah Berkuliah di UGM dan Jadi Aktivis, Kini Budiman Sudjatmiko Dikecam MahasiswaHarga Emas Dunia Menguat Tajam, tapi Penjualan Emas di Indonesia Tetap Lesu: Mengapa Masyarakat Ogah Beli?

Anehnya, kelompok mahasiswa ini mampu memaparkan data kepemilikan mobil Fortuner yang dikendarai Tiyo secara sangat rinci, termasuk nama pemilik di STNK/BPKB hingga silsilah hubungan keluarga pemilik kendaraan dengan seorang purnawirawan jenderal TNI.

0 Komentar