RADARGARUT– Perjalanan hidup Budiman Sudjatmiko adalah salah satu paradoks paling mencolok dalam sejarah politik Indonesia pasca-Reformasi. Dulu, ia adalah aktivis pemberani yang rela meringkuk di penjara Orde Baru karena memperjuangkan demokrasi.
Kini, sebagai Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, ia justru dicap “pengkhianat reformasi” dan “penjilat rezim” oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), kampus yang pernah menjadi bagian dari perjuangannya.
Puncak perjuangan Budiman terjadi pada pertengahan 1990-an. Sebagai pendiri Partai Rakyat Demokratik (PRD), ia bersama rekan-rekannya lantang menentang otoritarianisme Presiden Soeharto. PRD sendiri secara terbuka memperjuangkan hak asasi manusia, keadilan sosial, dan demokratisasi bagi rakyat kecil.
Baca Juga:Sudah Terlanjur Dibayar, BGN Komitmen Maksimalkan Motor Listrik Kepala SPPGAkibat Bentrok Dengan Polisi, 4 Mahasiswa Pendemo Dilarikan Ke Rumah Sakit
Pada 27 Juli 1996, kerusuhan besar terjadi di Jakarta. Pemerintah Orde Baru menuduh PRD sebagai dalang di balik peristiwa tersebut. Budiman ditangkap pada 11 Agustus 1996 dengan tuduhan subversi dan menghina pemerintah. Pada April 1997, ia divonis 13 tahun penjara.
Namun, berkat gelombang Reformasi 1998 dan amnesti dari Presiden Abdurrahman Wahid pada 10 Desember 1999, Budiman hanya menjalani hukuman sekitar 3,5 tahun.
Pengalaman itu menjadikannya ikon perlawanan terhadap rezim represif. Buku Anak-Anak Revolusi yang ditulisnya menjadi saksi bisu semangat aktivisme masa itu.
Ironi berlanjut ketika Budiman kembali ke UGM sebagai pembicara dalam diskusi bertema Pancasila. Alih-alih mendapat hormat sebagai mantan aktivis, ia digeruduk puluhan mahasiswa.
Massa aksi naik ke panggung, membentangkan spanduk bertuliskan “UGM Menolak Pengkhianat Reformasi” dan “UGM Menolak Penjilat Rezim”. Forum langsung kacau.
Mahasiswa menilai pembahasan Pancasila terasa hampa di tengah berbagai masalah nyata, kemiskinan yang tak kunjung teratasi, ketimpangan agraria, dan kebijakan ekonomi yang dinilai tidak pro-rakyat.
Dari perspektif mahasiswa, Budiman dianggap telah berbalik arah. Dukungannya terhadap Prabowo Subianto yang di masa lalu sering dikaitkan dengan pelanggaran HAM era Orde Baru, menjadi salah satu pemicu utama kemarahan.
Baca Juga:BGN Rencanakan Kurangi Target Penerima MBGRupiah Kembali Menguat, Pasar Saham Diprediksi Terus Tumbuh
Bagi mereka, ini adalah pengkhianatan terhadap semangat Reformasi 1998 yang dulu ia perjuangkan mati-matian. Sementara itu, pendukung Budiman melihat perubahan sikapnya sebagai evolusi politik yang dewasa, di mana mantan aktivis memilih jalur dalam sistem untuk membawa perubahan.
