Harga BBM Terus Melambung: Pertamina Dex Sentuh Angka Rp27.000

(Istimewa)
Harga BBM non subsidi terus naik (Istimewa)
0 Komentar

RADARGARUT– Mulai Senin, 4 Mei 2026, PT Pertamina (Persero) kembali menyesuaikan harga sejumlah produk Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi.

Kenaikan paling mencolok terjadi pada Pertamina Dex yang melompat signifikan menjadi Rp27.900 per liter, naik Rp4.000 dari harga sebelumnya Rp23.900 per liter. Penyesuaian ini mencerminkan dinamika harga minyak dunia yang terus berfluktuasi serta mekanisme pasar yang diterapkan perusahaan.

Menurut data resmi Pertamina Patra Niaga, kenaikan tidak hanya menyasar Pertamina Dex (CN 53). Dexlite (CN 51) juga naik dari Rp23.600 menjadi Rp26.000 per liter. Sementara Pertamax Turbo (RON 98) mengalami kenaikan lebih moderat, dari Rp19.400 menjadi Rp19.900 per liter.

Baca Juga:Dengar Aspirasi Ojol, Prabowo Tuntut Perusahaan Ojol Tak Pangkas Komisi 10%Menkeu Purbaya Siap Perketat Aturan Cukai Rokok, Resahkan Pekerja Tembakau

Di sisi lain, harga BBM yang lebih populer seperti Pertamax (RON 92) tetap stabil di Rp12.300 per liter, Pertamax Green 95 (RON 95) di Rp12.900 per liter, dan Pertalite (subsidi) bertahan di Rp10.000 per liter.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV. Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM non-subsidi merupakan bagian dari mekanisme pasar yang mengikuti perkembangan harga global.

“Produk non subsidi pada prinsipnya mengikuti harga keekonomian dan mengacu pada ketentuan serta peraturan yang berlaku,” ujarnya.

Namun, sebagai BUMN, Pertamina tidak hanya mempertimbangkan aspek bisnis semata. Perusahaan juga memperhatikan kondisi masyarakat, daya beli konsumen, serta stabilitas nasional.

Roberth menambahkan bahwa Pertamina Patra Niaga mempertimbangkan berbagai faktor sosial ekonomi untuk menjaga situasi tetap kondusif.

“Langkah ini mencerminkan komitmen kami untuk menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis dengan kepentingan nasional,” katanya.

Meski beberapa produk naik, tidak semua mengalami penyesuaian agar tetap kompetitif dibandingkan badan usaha swasta lain dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Baca Juga:Viral di Sosmed, Seorang WNI Kedapatan Merokok Di Depan Rambu Larangan Merokok Di Jepang!Bank Sampah Garut Ajak Warga "Menabung" Limbah, Wujudkan Lingkungan Hijau dan Ekonomi Sirkular

Mengapa Harga Naik dan Apa Dampaknya?

Kenaikan harga BBM non-subsidi ini bukan kejadian pertama di tahun 2026. Sebelumnya, pada awal Mei dan pertengahan April, sudah ada penyesuaian serupa pada produk diesel premium.

Faktor pendorong utama adalah tren harga minyak mentah dunia yang dipengaruhi ketegangan geopolitik, pemulihan ekonomi global pasca-pandemi, serta permintaan yang meningkat dari negara-negara besar seperti China dan India. Selain itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang fluktuatif juga turut memengaruhi biaya impor dan distribusi BBM.

0 Komentar