Bagi masyarakat, kenaikan ini tentu berdampak langsung. Pertamina Dex dan Dexlite biasanya digunakan oleh kendaraan diesel berperforma tinggi, truk logistik, bus antar kota, hingga industri pertanian dan manufaktur.
Kenaikan hingga Rp4.000 per liter berpotensi menekan biaya operasional transportasi dan logistik. Hal ini pada akhirnya bisa memicu efek domino berupa kenaikan harga barang kebutuhan pokok, terutama bahan pangan yang bergantung pada distribusi darat.
Di sektor transportasi umum, pengusaha angkutan barang dan penumpang mungkin akan menyesuaikan tarif. Konsumen akhir, seperti pemilik mobil pribadi atau pengendara ojek online yang menggunakan kendaraan diesel, juga merasakan beban tambahan.
Baca Juga:Dengar Aspirasi Ojol, Prabowo Tuntut Perusahaan Ojol Tak Pangkas Komisi 10%Menkeu Purbaya Siap Perketat Aturan Cukai Rokok, Resahkan Pekerja Tembakau
Meski demikian, Pertamina masih menjaga harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar relatif stabil, yang menjadi pilihan utama masyarakat menengah ke bawah.
Respons Pemerintah dan Prospek ke Depan
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus memantau dinamika ini. Beberapa pejabat sempat angkat suara terkait harga diesel yang sempat mendekati atau tembus Rp30 ribu di SPBU swasta.
Kebijakan subsidi yang tepat sasaran dan diversifikasi energi, seperti percepatan penggunaan CNG sebagai pengganti LPG, menjadi salah satu upaya mitigasi dampak jangka panjang.
Masyarakat diharapkan bijak dalam penggunaan energi, sementara pemerintah dan Pertamina terus menjaga keseimbangan antara profitabilitas bisnis dan kesejahteraan publik.
