GARUT – Upaya mendorong kemandirian industri penyamakan kulit nasional mulai menunjukkan langkah nyata melalui pengembangan enzim lokal hasil riset anak bangsa.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN) bersama kalangan akademisi dan pelaku usaha kulit di Garut mulai memperkuat kolaborasi guna menghadirkan enzim lokal yang dinilai mampu menjadi alternatif pengganti bahan kimia impor dalam proses penyamakan kulit.
Saat ini, pemanfaatan enzim untuk aplikasi industri terus meningkat seiring berkembangnya kebutuhan dunia usaha.
Baca Juga:324 Jembatan di Garut Diajukan ke Pusat, Tiga Titik Sudah Direspons Untuk Segera DiperbaikiYudha Puja Turnawan Tinjau Rumah Janda Lansia Korban Kebakaran di Karangpawitan
Namun, pasar enzim di Indonesia masih didominasi produk impor dari China, India, Jepang, hingga Eropa.
Kondisi tersebut menjadikan Indonesia lebih banyak menjadi pasar bagi produk asing, termasuk untuk kebutuhan enzim industri penyamakan kulit. Padahal, potensi kebutuhan enzim penyamak kulit di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 20 ton per bulan.
Kondisi ini dinilai menjadi peluang besar bagi hadirnya produk enzim lokal yang mampu menopang kebutuhan industri sekaligus memperkuat kemandirian nasional di sektor bahan baku industri.
Melalui Program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) yang dikelola BRIN dan didukung LPDP, BRIN menghadirkan produk inovasi enzim penyamak kulit bernama Enzypro bekerja sama dengan PT Biokatalis Pratama Indonesia sebagai mitra industri.
Dalam rangka mendukung pemanfaatannya di industri penyamakan kulit, BRIN membangun ekosistem riset dan inovasi bersama Universitas Garut (UNIGA), Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) Garut, Pemerintah Kabupaten Garut, dan mitra industri lainnya.
Langkah konkret tersebut diwujudkan melalui kegiatan Sosialisasi dan Edukasi Produk Inovasi bertema “Enzim Lokal Berdampak Global” yang digelar untuk memperkenalkan hasil riset BRIN kepada komunitas industri penyamakan kulit serta mendukung program substitusi produk impor.
Kepala PR Mikrobiologi Terapan BRIN, Ahmad Fathoni, mengatakan industri kulit di Garut sangat membutuhkan enzim yang sesuai dengan kebutuhan proses penyamakan kulit.
Baca Juga:Ardi Ramdani Ukir Sejarah, Atlet Sepak Bola Asal Garut Tembus Super League IndonesiaPepohonan Menjuntai Dibabat, Akses Jalan Desa di Cibiuk Garut Kembali Lancar
“Industri di Garut ini sangat memerlukan enzim yang memang sesuai untuk proses penyamakan kulit. Ini juga diaplikasikan langsung dan nanti dari industri memberikan testimoni bagaimana hasilnya, karena ada beberapa kebutuhan industri yang akan dibantu,” ujarnya.
