RADARGARUT– Masyarakat Indonesia saat ini sedang merasakan cuaca yang ekstrem dan kontradiktif. Sinar matahari menyengat dengan suhu mencapai 36,5°C, membuat udara terasa panas menyengat dan aktivitas sehari-hari menjadi tidak nyaman.
Namun, tiba-tiba hujan lebat hingga sangat lebat bisa turun dengan intensitas tinggi, menyebabkan genangan air dan potensi banjir di berbagai daerah. Fenomena ini menjadi ciri khas masa pancaroba atau peralihan musim yang sedang dialami Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan dini kepada masyarakat. Menurut BMKG, kondisi ini terjadi karena Indonesia memasuki periode transisi dari musim hujan ke musim kemarau.
Baca Juga:Kemenkes Himbau Masyarakat Terkait Potensi Hantavirus di IndonesiaNetizen Sebut Persija Dengan Istilah Cacing Kemayoran Usai Kalah 2-1 dari Persib
Meskipun suhu maksimum melonjak tinggi pada periode 7-10 Mei 2026 akibat minimnya tutupan awan, radiasi matahari yang maksimal justru memicu pola konvektif yang kuat. Udara panas yang naik membawa uap air, sehingga membentuk awan hujan tebal pada sore hingga malam hari, terutama di wilayah dengan kadar kelembaban tinggi.
Data pengamatan BMKG mencatat beberapa wilayah mengalami suhu ekstrem, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, dan Papua Barat. Sementara itu, curah hujan ekstrem juga tercatat di Sulawesi Tenggara mencapai 146 mm per hari dan Papua Tengah 143,2 mm per hari.
Wilayah lain seperti Riau, Kalimantan Barat, dan Aceh pun diguyur hujan lebat di atas 60 mm per hari. Kondisi ini menunjukkan betapa dinamisnya atmosfer saat ini.
Fenomena ini didorong oleh aktivitas gangguan atmosfer yang aktif secara bersamaan. Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG) terpantau kuat di sebagian besar Indonesia.
Selain itu, Ex-Siklon Tropis Hagupit di utara Papua memperkuat pertumbuhan awan hujan di wilayah timur negeri.
Dinamika Sepekan ke Depan
Memasuki pertengahan Mei 2026, Monsun Australia mulai menguat, membawa massa udara kering yang menjadi pertanda awal musim kemarau. Namun, BMKG memprediksi penguatan ini akan diikuti pelemahan tajam, sehingga potensi uap air di wilayah selatan Indonesia bisa meningkat kembali.
Aktivitas MJO melintasi hampir seluruh wilayah kecuali Kalimantan Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Utara. Gelombang Kelvin berpotensi di Jawa, Bali, NTB, NTT, hingga Laut Arafuru, sementara Gelombang Rossby aktif di Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan NTT.
