Sebab, Cucu dan Juhaenah tidak lagi sekadar membutuhkan perbaikan rumah, melainkan tempat tinggal yang dapat kembali mereka tempati dengan aman.
Di sisi lain, Yudha menyebut persediaan bantuan bahan bangunan yang biasanya disalurkan melalui Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Garut saat ini telah habis.
Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah mencari alternatif pembiayaan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
Baca Juga:Hanya 5 LPK di Garut Kantongi Sending Organization untuk Penempatan Kerja ke JepangPetani Garut Keluhkan Hasil Tani Tak Terserap MBG, Distan Ungkap Masalah Upstaker dan Bandar
“Karena Disperkim Garut sudah habis bantuan bahan bangunan, harapan saya pak Bupati bisa mengoptimalkan kolaborasi pendanaan CSR, bukan hanya dari BJB Garut dan BPR Garut tapi juga dari berbagai entitas usaha skala besar,” ucap Yudha.
Menurut Yudha, kolaborasi tersebut dapat menjadi salah satu jalan keluar untuk membantu warga yang rumahnya rusak atau roboh akibat musibah, termasuk Cucu dan Juhaenah.
Selain CSR, ia juga berharap Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Garut dapat mengambil peran dalam membantu keluarga tersebut.
“Kemudian juga untuk basmas Garut yang setiap bulan menghimpun dana zakat dari segenap ASN Garut, oleh pak Bupati bisa diarahkan untuk membantu pak Cucu untuk membangun rumahnya kembali,” katanya.
Yudha menilai kondisi Cucu dan Juhaenah perlu mendapat perhatian khusus. Persoalan tempat tinggal mereka bukan hanya menyangkut kerusakan bangunan, tetapi juga status lahan yang membuat akses terhadap sejumlah program bantuan menjadi terbatas.
“Saya cukup prihatin karena betapa banyak musibah rumah kebakaran dan rumah ambruk yang tidak mendapatkan bantuan dari baznas Garut. harapan saya ini menjadi perhatian Kepada Bupati Garut dan juga kepada pak sekda agar bisa mengarahkan baznas untuk perbaikan rumah pak cucu dan ibu juhaenah, karena Ini masalahnya cukup rumit karena mereka tinggal di tanah carik desa,” ujar Yudha.
Status tanah carik tersebut membuat Cucu dan Juhaenah tidak mudah mendapatkan bantuan Rutilahu, baik yang bersumber dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
Baca Juga:DPMPTSP Garut Tegaskan Tak Ada Aturan Jarak Antar Minimarket, Soroti Kejelasan 24 Jam OperasionalKlinik Armina Hadir Buka Layanan Ibu dan Anak, Bupati Garut Harapkan Bisa Menekan AKI dan AKB
“Saya cukup prihatin karena betapa banyak musibah rumah kebakaran dan rumah ambruk yang tidak mendapatkan bantuan dari baznas Garut. harapan saya ini menjadi perhatian Kepada Bupati Garut dan juga kepada pak sekda agar bisa mengarahkan baznas untuk perbaikan rumah pak cucu dan ibu juhaenah, karena Ini masalahnya cukup rumit karena mereka tinggal di tanah carik desa,” ujar Yudha.
