RADARGARUT– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia, khususnya Kalimantan dan Sumatra, kembali menjadi sorotan media internasional.
Kabut asap tebal yang dihasilkan tidak hanya mengganggu aktivitas warga di dalam negeri, tetapi juga melintas batas negara dan memperburuk kualitas udara di Malaysia serta memicu kewaspadaan di Singapura.
Salah satu media yang menyoroti kondisi ini adalah The Guardian. Dalam artikel berjudul ‘Like smoking a cigarette’: Indonesia chokes on haze as blazes intensify amid super ‘El Niño’, media Inggris itu menggambarkan kondisi warga di Kalimantan yang harus menjalani aktivitas sehari-hari di tengah kepungan asap pekat.
Baca Juga:Basic vs Premium Member Access by KAI: Kenali Perbedaannya dan Raih Benefit Railpoin!Api Bakar Habitat Ragam Hayati Indonesia: Harimau Sumatera Terancam Punah
Seorang warga bernama Suwadi menceritakan jarak pandangnya di luar rumah hanya sekitar lima meter. Setiap tarikan napas, katanya, terasa seperti sedang mengisap rokok.
Menurut laporan The Guardian, kebakaran telah melanda puluhan ribu hektare lahan di Kalimantan, termasuk kawasan hutan hujan. Asap tebal yang dihasilkan kemudian terbawa angin dan mengancam negara tetangga.
Data Kementerian Kehutanan menunjukkan hampir 94.000 hektare lahan terbakar hanya pada Juli 2026. Secara keseluruhan, dari Januari hingga akhir Agustus, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai ratusan ribu hektare.
Dampak kesehatan sudah terasa nyata. Di Kalimantan Barat, kunjungan ke ruang gawat darurat akibat gangguan pernapasan melonjak tajam.
Data Kementerian Kesehatan mencatat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di beberapa daerah terdampak meningkat signifikan. Di Kalimantan Tengah, misalnya, kasus ISPA naik lebih dari 78 persen dalam seminggu.
Partikel halus PM2,5 dari asap karhutla menjadi ancaman utama karena dapat menembus hingga ke dalam paru-paru. Di Malaysia, dampak lintas batas semakin kentara. Berdasarkan data Air Pollutant Index Management System (APIMS), puluhan wilayah termasuk Kuala Lumpur mencatat indeks kualitas udara dalam kategori tidak sehat.
Di Sarawak, yang berbatasan langsung dengan Kalimantan, ratusan sekolah sempat diliburkan karena kualitas udara buruk, memengaruhi sekitar 200.000 siswa. Beberapa distrik bahkan mencapai kategori “sangat tidak sehat”.Sementara itu, Singapura meningkatkan kewaspadaan.
