GARUT – Petani di Kabupaten Garut, hingga saat ini masih memiliki kelemahan terkait hasil produksi tani tidak juga terserap pada program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Perlindungan dan Pengembangan Usaha Pertanian (PPUP) Susi Suhartianti.
Menurutnya, bahwa petani pada saat menjual hasil produksi nya ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau program MBG ini masih ada Upstackernya, artinya harga lebih mahal daripada di pasar.
Baca Juga:Klinik Armina Hadir Buka Layanan Ibu dan Anak, Bupati Garut Harapkan Bisa Menekan AKI dan AKBRelawan LH Garut Belum Dapat Upah, Pemkab Siapkan BPJS Ketenagakerjaan hingga Skema Outsourcing 2027
“Jadi kan pasti harga lebih mahal di petani daripada di pasar, udah siap sedia pula kalau dipasar dengan harga yang lebih murah,” ujarnya.
Lanjut dia, para petani memang memiliki bandar, sehingga para SPPG harus membeli hasil tani ke bandar tidak langsung ke petani, hal tersebut yang menjadi harga mahal dibandingkan di pasar.
“Kalau petani kan memang punya bandarnya, punya off-taker, petani jual dulu ke dia (bandar) kan, tidak ke petani langsung gitu loh MBG itu, SPPG itu, nah itu kelemahannya,” lanjutnya.
Susi menjelaskan, para petani sering protes ke dinas terkait tentang hasil produksi tani mereka yang tidak terserap.
“Karena mereka itu tidak diserap bahan baku produksinya mereka untuk MBG ya, tapi ya memang ternyata memang harganya lebih mahal daripada SPPG itu beli ke pasar,” jelasnya.
Selain itu, perlu diakui juga bahwa lahan petani masih sedikit, dan kontinuitas untuk bahan baku juga masih kurang.
Sebagai solusi, kata Susi, Distan Garut selalu mencoba mengedukasi petani agar bisa masuk ke pasar modern seperti Yogya ataupun Superindo, namun memang kelemahannya di kontinuitas bahan-bahan.
Baca Juga:PPPK Paruh Waktu Dikabarkan Naik Status Jadi Penuh Waktu 2027Premi Asuransi Petani di Garut Masih Ditanggung Pemkab, Klaim Kerugian Bisa Capai Rp6 Juta per Hektare
“Kemarin yogya waktu kami wawancara juga sebenarnya udah ada tuh dari Malangbong katanya masuk Strawberry yaudah cuma sekali pada saat kita minta lagi enggak ada,” kata Susi.
Tak hanya itu, spesifikasi produksi hasil tani ketika masuk ke pasar modern atau mall pun pasti sangat berbeda dengan masuk ke pasar.
“Kalau pasar kan abragannya gitu, kalau mall kan ada spek yang seperti itu nah itu yang sulit dan PR juga bagi kami untuk itu,” tambahnya.
