Memutus Rantai: Ketika Seorang Ibu Memilih Tidak Mewariskan Pola Asuh yang Sama

Radar Garut
komunitas Ibu Profesional Garut. (Fuji)
0 Komentar

Pada awal mengenalnya di komunitas Ibu Profesional Garut, Teh Alia melihat Astuti sebagai sosok yang pemalu.

Ketika diajak berbicara, Astuti kerap menunduk. Bicaranya terbata-bata, belum percaya diri untuk berbagi cerita, bahkan belum berani menatap lawan bicara.

“Orangnya baik, peduli, kritis, cuma belum pede untuk sharing atau berbagi cerita, karena belum menemukan kekuatan dirinya,” kenang Alia.

Baca Juga:65 Persen Pemilih Garut pada 2029 Diprediksi Pemilih Pemula, Berpotensi Ubah Arah KekuasaanAtam, Pejuang yang Gugur di Leuwigoong Jejaknya yang Masih Dijaga Warga

Kini, perempuan yang dulu lebih banyak menunduk itu justru mulai berani berbicara, berbagi pengalaman, mengambil peran, bahkan tertarik belajar kepemimpinan.

Perubahan Itu Tidak Terjadi Dalam Semalam

Di baliknya ada perjalanan seorang ibu yang perlahan menyadari bahwa ada pola dari masa lalu yang tidak ingin ia teruskan kepada anak-anaknya.

Ketika Anak Mulai Meniru Cara Bicara Ibunya

Titik balik itu bermula ketika anak sulung Astuti memasuki usia SMP.Saat itu, ia merasa komunikasi dengan anak belum cukup dekat. Yang kemudian membuatnya semakin tersadar adalah ketika melihat anak-anak mulai meniru cara bicaranya yang keras.

“Jujur, perilaku itu tidak saya suka sebenarnya dan saya tidak ingin anak-anak seperti itu,” ujar Astuti.

Astuti kemudian mulai belajar kembali tentang pengasuhan dan tumbuh kembang anak. Bukan hanya belajar bagaimana mendampingi anak, tetapi juga berani melihat dirinya sendiri.

Alia pernah mendengar Astuti bercerita tentang dirinya sebagai ibu yang dahulu memiliki karakter keras dan suara tinggi. Astuti juga mengaitkan pola tersebut dengan pengalaman bersama kedua orang tuanya.

Bagi Alia, cerita itu terasa dekat. Mereka tidak terpaut usia terlalu jauh dan sama-sama mengenal pola pengasuhan generasi sebelumnya.

Baca Juga:PAD Garut Tembus 50 Persen, Bapenda Bidik Capaian di Atas 90 PersenNikmati Perjalanan Merdeka Dengan Diskon Istimewa dari Daop 2 Bandung

Karena itu, menurut Alia, perubahan Astuti bukan sekadar belajar teori parenting. Ia sedang belajar mengenali dirinya sendiri.

Dari Perempuan yang Menunduk Menjadi Berani Mengambil PeranAlia menyaksikan perubahan tersebut secara perlahan.

“Teh Astuti lebih terlihat mulai percaya diri, mulai berani ngobrol, sharing dan mengambil peran,” katanya.

Perubahan itu juga terlihat ketika Astuti menghadapi perbedaan pandangan.Menurut Alia, Astuti yang sekarang lebih dewasa dalam berpikir dan berkomunikasi. Ketika berbeda pendapat dengan anggota komunitas, ia mulai mampu melihat alternatif solusi tanpa harus merusak hubungan.

0 Komentar