Menurut Noer, pertemuan yang dipandu Astuti sering meninggalkan sesuatu yang dapat menjadi bekal untuk kehidupan sehari-hari.
Perubahan yang Dilihat dari Banyak Mata
Perubahan Astuti tidak hanya terlihat dari satu sisi. Alia melihat perempuan yang dulu pemalu dan kurang percaya diri kini berani berbicara, berbagi, dan mengambil peran.
Noer melihat seorang pendiri lembaga yang tegas tetapi tetap memberi ruang kepada anak, guru, dan orang tua.
Baca Juga:65 Persen Pemilih Garut pada 2029 Diprediksi Pemilih Pemula, Berpotensi Ubah Arah KekuasaanAtam, Pejuang yang Gugur di Leuwigoong Jejaknya yang Masih Dijaga Warga
Sementara Purwani, rekan Astuti dalam kegiatan pemberdayaan keluarga dan perempuan, melihat perubahan dalam cara Astuti mengambil keputusan.
Dulu, menurut Purwani, Astuti dikenal sebagai sosok yang mudah merasa tidak tega terhadap rekan kerja. Kini ia mulai mampu mengambil keputusan yang terbaik bagi tim tanpa kehilangan empatinya.
“Ini bukan berarti sifat nggak tega-annya hilang, tapi sudah bisa bertindak secara profesional,” ujar Purwani.
Purwani juga melihat Astuti semakin mampu mendengarkan, menahan diri, dan menjadi teladan bagi anak maupun murid.
“Bisa mendengarkan, menahan diri dan menjadi contoh atau teladan bagi anak dan muridnya sangat terlihat dari sikap dan kata-kata yang dipilih,” katanya.Memutus Rantai
Jika dilihat dari luar, perjalanan Astuti bukan kisah tentang seorang ibu yang tiba-tiba menemukan cara menjadi orang tua yang sempurna. Ia pernah merasa komunikasinya dengan anak belum cukup dekat.
Ia pernah melihat anak-anak meniru cara bicaranya yang keras. Ia pernah menjadi perempuan yang menunduk ketika berbicara. Ia juga pernah menghadapi kehilangan dan harus mengambil peran baru dalam keluarganya.Namun, setiap fase tersebut menjadi bagian dari proses belajar.
Baca Juga:PAD Garut Tembus 50 Persen, Bapenda Bidik Capaian di Atas 90 PersenNikmati Perjalanan Merdeka Dengan Diskon Istimewa dari Daop 2 Bandung
Alia menyebut Astuti sebagai “seorang ibu yang sederhana dan punya semangat belajar yang tinggi”
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, justru di situlah inti perjalanan Astuti. Ia tidak berhenti pada kesadaran bahwa ada sesuatu yang perlu diubah. Ia belajar, kemudian mencoba mempraktikkannya.
Pola asuh sering kali diwariskan tanpa disadari. Cara orang tua berbicara, menghadapi konflik, menunjukkan emosi, bahkan memperlakukan anak bisa berasal dari apa yang dahulu mereka terima.
