Memutus Rantai: Ketika Seorang Ibu Memilih Tidak Mewariskan Pola Asuh yang Sama

Radar Garut
komunitas Ibu Profesional Garut. (Fuji)
0 Komentar

Dari Rumah ke Ruang Pendidikan

Pengalaman sebagai ibu kemudian membawa Astuti pada keputusan mendirikan TK Al-Hasanah di Wanaraja, Garut.

Keputusan itu lahir dari kegelisahan agar pengalaman yang pernah terjadi dalam perjalanan pengasuhannya tidak kembali dialami anak-anak lain hanya karena orang tua belum memahami cara mendampingi anak sesuai tumbuh kembangnya.

Harapannya sederhana: anak, guru, dan orang tua dapat tumbuh bersama sebagai sebuah tim keluarga.

Baca Juga:65 Persen Pemilih Garut pada 2029 Diprediksi Pemilih Pemula, Berpotensi Ubah Arah KekuasaanAtam, Pejuang yang Gugur di Leuwigoong Jejaknya yang Masih Dijaga Warga

“Anak-anak, guru dan orang tua bahagia dan bekerjasama menjadi team keluarga yang hebat dan kompak,” ujar Astuti.

Di TK Al-Hasanah, gagasan tersebut diterapkan dalam keseharian.Noer Latifah, yang mengenal Astuti melalui lembaga tersebut, mengatakan sekolah menerapkan metode BCCT (Beyond Centers and Circle Time).

Selain metode pembelajaran, anak-anak dibiasakan melakukan hal-hal sederhana seperti mengucapkan salam, bersyukur atau berterima kasih, meminta maaf, meminta tolong, hingga merapikan sandal.

“Nilai-nilai itu bukan hanya terlaksana, tapi juga tertanam dan terbiasa,” kata Noer.

Anak Belajar dari Energi Orang Dewasa

Ada satu gagasan Astuti yang terus diingat Noer: kondisi orang dewasa dapat memengaruhi suasana anak.

“Mood anak tergantung mood ibunya, begitupun mood murid tergantung mood gurunya karena energi itu menular,” ujar Noer.

Noer pernah mengalami sendiri hal tersebut. Suatu ketika, ia datang mengajar dalam kondisi tidak bersemangat. Ada sejumlah tenggat pekerjaan yang terlewat. Ia juga belum sarapan sehingga merasa lapar, mengantuk, sering menguap, dan menjadi lebih mudah kesal. Kondisi tersebut ternyata ikut terlihat oleh murid-muridnya.

Baca Juga:PAD Garut Tembus 50 Persen, Bapenda Bidik Capaian di Atas 90 PersenNikmati Perjalanan Merdeka Dengan Diskon Istimewa dari Daop 2 Bandung

Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa mendampingi anak bukan hanya persoalan metode pembelajaran. Orang dewasa yang berada di sekitar anak juga perlu belajar mengenali dirinya sendiri.

Tegas, Tetapi Tetap Merangkul

Bagi Noer, Astuti adalah sosok yang tegas dan memiliki pendirian kuat.Namun ketegasan itu berjalan bersama kemampuan untuk merangkul.Anak-anak, guru, dan orang tua diberi ruang untuk menyampaikan pandangan masing-masing.

“Semua dirangkul dan diberi kebebasan untuk berpendapat menurut pandangan masing-masing,” kata Noer.

Dalam pertemuan dengan orang tua murid, Astuti juga dikenal mengajak orang tua berinteraksi, bukan sekadar mendengarkan.

0 Komentar