Tetapi warisan tidak selalu harus diteruskan seluruhnya, ada saat ketika seseorang perlu berhenti dan bertanya:
Apakah semua yang saya terima dari generasi sebelumnya harus saya berikan kembali kepada anak-anak saya?
Astuti memilih untuk bertanya, kemudian belajar mencari jawabannya.Dari rumah, proses itu bergerak ke komunitas, lingkungan kerja, dan ruang pendidikan.
Baca Juga:65 Persen Pemilih Garut pada 2029 Diprediksi Pemilih Pemula, Berpotensi Ubah Arah KekuasaanAtam, Pejuang yang Gugur di Leuwigoong Jejaknya yang Masih Dijaga Warga
Dari pengalaman pribadi lahir keinginan untuk menciptakan lingkungan yang membantu anak, guru, dan orang tua tumbuh bersama.
Sebab memutus rantai bukan berarti menyalahkan generasi sebelumnya.Memutus rantai berarti berani memilih: mana yang layak diteruskan dan mana yang cukup berhenti pada diri sendiri.
Astuti percaya satu hal:
“Tidak ada kata terlambat. Teruslah belajar dan praktikkan ilmu yang kita dapat untuk menebar kebermanfaatan untuk diri, keluarga dan lingkungan,”
Mungkin, pada akhirnya, perubahan dalam keluarga memang tidak selalu dimulai dari anak.
Kadang, perubahan itu dimulai dari seorang ibu yang berani melihat dirinya sendiri lalu memutuskan untuk menjadi titik tempat sebuah pola berhenti.(Fuji)
