Atam, Pejuang yang Gugur di Leuwigoong Jejaknya yang Masih Dijaga Warga

Pepen Apendi/Radar Garut
Bagi masyarakat Leuwigoong, Atam bukan hanya disebut sebagai pejuang. Mereka lebih akrab menyebutnya sebagai pahlawan. (Pepen Apendi/Radar Garut)
0 Komentar

GARUT – Di perbatasan Desa Sindangsari dan Dungusiku, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut, berdiri sebuah tugu sederhana.

Tugu itu bukan sekadar penanda tempat, melainkan menyimpan ingatan tentang seorang pejuang bernama Atam, yang gugur saat mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Nama Atam mungkin tidak banyak dikenal di luar Leuwigoong. Namun bagi masyarakat setempat, kisahnya telah menjadi bagian dari ingatan kolektif tentang masa-masa ketika kemerdekaan yang baru diraih harus dipertahankan dengan darah dan nyawa.

Baca Juga:PAD Garut Tembus 50 Persen, Bapenda Bidik Capaian di Atas 90 PersenNikmati Perjalanan Merdeka Dengan Diskon Istimewa dari Daop 2 Bandung

Atam diketahui gugur pada 3 September 1947 saat bertempur melawan tentara Belanda. Ia tercatat sebagai bagian dari resimen tentara bersama rakyat dari Batalion XXXI Banteng.

Puluhan tahun telah berlalu sejak pertempuran itu. Satu per satu saksi yang pernah mengetahui langsung perjuangan Atam telah meninggal dunia.

Cerita mengenai siapa dirinya, dari keluarga mana ia berasal, hingga perjalanan hidup sebelum terjun ke medan perjuangan pun semakin sulit ditelusuri.

Salah seorang saksi bernama Enoh bahkan pernah berupaya mencari jejak keluarga Atam sampai ke Majalaya, Bandung. Namun penelusuran itu belum menemukan titik terang. Identitas orang tua maupun keluarganya masih belum diketahui secara pasti.

Yang tersisa kini adalah cerita warga, tugu, makam, dan jejak pengorbanannya.Bagi masyarakat Leuwigoong, Atam bukan hanya disebut sebagai pejuang.

Mereka lebih akrab menyebutnya sebagai pahlawan. Sebutan itu lahir dari penghormatan terhadap seseorang yang telah menyerahkan jiwa dan raganya dalam pertempuran melawan tentara Belanda.

Setelah gugur, Atam dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Ciseureuh, Desa Sindangsari, Kecamatan Leuwigoong.

Baca Juga:DEN Minta Pengembangan Panas Bumi di Garut DipercepatPasar Lawang Godog Belum Masuk Prioritas Penataan, Disperindag ESDM Garut Fokus Kawasan Perkotaan

Makam tersebut hingga kini masih menjadi salah satu titik yang mengingatkan masyarakat terhadap perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Bersama tugu yang berdiri di perbatasan desa, keberadaannya seolah menjadi penghubung antara generasi hari ini dengan masa perjuangan puluhan tahun silam.

Setiap menjelang maupun pada peringatan 17 Agustus, makam Atam kerap didatangi untuk berziarah. Pejabat hingga organisasi kepemudaan pernah datang memberikan penghormatan.

Pernah pula digelar kegiatan long march dari Tugu Atam menuju makamnya. Kegiatan tersebut melibatkan Dinas Sosial bersama pemerintah desa sebagai bagian dari upaya mengenang kembali perjuangan yang pernah terjadi di wilayah itu.

0 Komentar