GARUT – Program Ketahanan Pangan Nasional, menjadi salah satu program strategis dari Presiden Prabowo Subianto, sehingga pelaksanaannya berada di Dinas Pertanian tiap daerah di seluruh Indonesia.
Namun, faktanya kondisi saat ini terjadi efisiensi anggaran, sehingga otomatis akan berdampak pada program di Dinas Pertanian yang seharusnya dijalankan.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Dinas Pertanian Garut, Dedi, mengatakan ketahanan pangan memang salah satu program strategis dari Presiden Prabowo.
Baca Juga:Garut Mundur dari Tuan Rumah MTQ Jabar 2026, Sekda: Butuh Anggaran Minimal Rp15 MiliarKontingen Garut Berangkat ke Jambore Nasional XII, 32 Penggalang Siap Unjuk Kemampuan
Namun, kata Dedi, bahwa program ketahanan pangan nasional ini ada dua potensi unggulan, seperti padi dan jagung.
“Ketika bicara ketahanan pangan itu ada dua yang menjadi potensi unggulannya, yaitu padi dan jagung,” ujarnya belum lama ini saat diwawancarai di Kantor Dinas Pertanian Garut.
Sementara itu, untuk holtikultura berbeda dengan ketahanan pangan. Ada beberapa komoditi hasil tani yang termasuk kedalam holtikultura.
“Kalau hortikultura di dalamnya ada cabai, ada kentang, ada bawang, ada jeruk. Kemudian yang kebun, di dalamnya ada kopi, teh, kemudian tembakau,” katanya.
Ia menyebutkan, memang ketahanan pangan menjadi program strategis Presiden Prabowo, namun dengan adanya efisiensi dari pemerintah pusat pun sangat berdampak terhadap program tersebut.
Namun, ketika daerah mengalami efisiensi justru pemerintah juga hadir tidak meninggalkan begitu saja, dalam artinya memberikan bantuan-bantuan.
“Contohnya nih, di kami meskipun kegiatan dengan adanya efisiensi berkurang, pemerintah hadir. Kita dapat bantuan dari mulai irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, bantuan pupuk, bantuan bibit nah itu,” ungkapnya.
Baca Juga:SDN Sukanagara Masuk Program Revitalisasi, Usai Kotoran Kelelawar Penuhi Ruang KelasDishub Garut Tetapkan 16 Titik Parkir Resmi di Kawasan Perkotaan
Dedi mengatakan, dibalik adanya efisensi memang pemerintah pusat tetap memperhatikan dan memfokuskan kepada pemerintah kabupaten/kota diseluruh Indonesia.
“Jadi inisiatif dan mungkin tujuannya adalah tadi ya mungkin mereka juga pengen hadirnya itu bukan hanya daerah saja. Nah, makanya kami saat ini ada bantuan traktor dan lainnya,” lanjutnya.
Ia menjelaskan, bahwa dengan kondisi efisensi saat ini justru Kementerian Pertanian sangat aktif, terbukti bahwa Kabupaten Garut saat ini mendapatkan alokasi 216 titik untuk Irigasi perpompaan.
“Oh tentu aktif ya. Saat ini alokasi Kabupaten Garut kita dapat alokasi kurang lebih 200 titik untuk sumur tanah dalam, sumur tanah dangkal. Kan tadi, ketika bicara ketahanan pangan, bicara pangan di sini kan LBS Lahan Baku Sawah. Lahan Baku Sawah di Kabupaten Garut itu luasnya 46.000 hektar,” jelasnya.
