Namun demikian, ketika pemerintah sudah hadir untuk memfasilitasi menghadapi musim kemarau seperti irigasi perpompaan, kendala yang dihadapi ialah bahan bakar pompa tersebut.
“Kan pompa menggunakan bahan bakar, di dalamnya ada yang sifatnya tenaga listrik, ada yang bahan bakar kayak pertalite nah gitu. Nah, ini yang menjadi kendala,” ucap Dedi.
Sehingga, pihaknya sudah berkolaborasi dengan kecamatan ataupun kepala desa agar bisa mengalokasikan BTT untuk membantu bahan bakar pompa tersebut.
Baca Juga:Garut Mundur dari Tuan Rumah MTQ Jabar 2026, Sekda: Butuh Anggaran Minimal Rp15 MiliarKontingen Garut Berangkat ke Jambore Nasional XII, 32 Penggalang Siap Unjuk Kemampuan
“ini mah kaya bahan bakar yang kaya Pertalite lah. Nah, itu yang menjadi kendala bagi Bapak dan Ibu yang ada di lapangan itu di sana. Tetapi, alhamdulillah meskipun demikian kita tetap fokus kesana,” sambungnya.
Selain itu, disisi lain terjadi efisiensi anggaran, tetapi Direktur Jendral Lahan Irigasi Pertanian (LIP) hadir langsungg ke Dinas Pertanian Garut untuk memfasilitasi kelompok tani untuk mendapatkan 216 titik Irigasi perpompaan.
“Meskipun kita efisiensi pemerintah pusat hadir, Malahan Dirjen LIP turun ke seluruh Indonesia ke kabupaten/kota yang memang itu perlu di-support, mereka hadir kesini (Garut),” lanjut dia.
Terkait 216 titik Irigasi perpompaan, kata Dedi, saat ini prosesnya baru berjalan, namun pada tahun 2024 dan 2025 sudah berjalan, dan saat ini terkendala terkait bahan bakar.
“Yang saat ini baru berjalan dari proses kemarin nih bulan Juli kemarin yang sudah baru mulai, jadi ada yang sudah beres pekerjaannya, ada yang memang masih dalam tahap pengerjaan,” tambahnya.
Ia menegaskan, terkait bantuan-bantuan yang difokuskan oleh pemerintah difokuskan untuk lahan pangan, yang didalamnya ada Lp2B, dan totalnya ada 6 kecamatan yang menjadi perhatian untuk 1.837 hektare lahan.
“Makanya ada di Selaawi, ada di Limbangan, ada di Cibatu, pokoknya yang fokus-fokus yang lahan sawah weh kita fokus di sana,” pungkasnya. (*)
