Kegiatan Tidak Gunakan APBD Garut
Meski mendapat dukungan pemerintah daerah, Beni menegaskan Festival Layang-Layang Internasional tersebut tidak dibiayai sepenuhnya melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Garut.
Penyelenggaraan dan pembiayaan operasional kegiatan menjadi tanggung jawab pihak investor. Sementara Pemerintah Kabupaten Garut berperan dalam memberikan dukungan regulasi, infrastruktur, serta pembinaan seni dan budaya.
“Pada dasarnya kami tidak memiliki anggaran khusus untuk menyelenggarakan festival ini. Dukungan pemerintah berupa regulasi dan penyiapan infrastruktur, termasuk pencahayaan yang dikerjakan bersama Dinas Perhubungan,” ucapnya.
Baca Juga:Pemkab Garut Percepat Pembentukan Forum TJSLP untuk Optimalkan Dana CSRPersiapan Festival Layang-Layang Internasional Garut Capai 90 Persen
Karena dikelola pihak investor, laporan rinci mengenai pembiayaan acara menjadi kewenangan internal penyelenggara.
“Untuk laporan detail anggaran, pihak penyelenggara memiliki laporan sendiri. Pemerintah daerah tidak masuk ke ranah internal tersebut,” katanya.
Beni menambahkan, dukungan pemerintah juga diberikan melalui pembangunan dan penataan fasilitas pendukung, termasuk pelebaran jalan menuju kawasan Tepas Papandayan.
Selain itu, pemerintah melakukan pembinaan terhadap sanggar-sanggar seni lokal yang akan terlibat dalam rangkaian pertunjukan.
“Bukan berarti pemerintah sama sekali tidak mengeluarkan anggaran. Dukungan tetap ada dalam bentuk infrastruktur dan pembinaan, tetapi pembiayaan serta sistem penyelenggaraan acara berasal dari investor,” tambahnya.
Gagasan penyelenggaraan festival bermula dari kunjungan delegasi sejumlah negara Asia Tenggara yang tergabung dalam program Desa Emas.
Tepas Papandayan menjadi salah satu desa di Indonesia yang masuk dalam jaringan program tersebut.
Baca Juga:Ketua DPRD Garut Akui Penyerapan Produk UMKM Lokal Untuk Program MBG Masih KurangRSUD Limbangan Belum Tuntas, DPRD Garut Dorong Penyelesaian Pembangunan pada 2027
Dalam kunjungan itu, salah seorang delegasi dari Malaysia yang juga disebut sebagai Presiden Layang-Layang Asia Tenggara melihat potensi kawasan Tepas Papandayan.
Ketertarikan terhadap karakter alam dan kondisi kawasan tersebut kemudian berkembang menjadi pembahasan mengenai kemungkinan menggelar festival layang-layang internasional.
“Garut masuk dalam program Desa Emas dan Tepas Papandayan menjadi salah satu desa yang tergabung. Ketika delegasi dari sejumlah negara Asia Tenggara datang, mereka melihat potensi kawasan ini dan akhirnya muncul gagasan menyelenggarakan festival layang-layang,” pungkasnya. (*)
