Risiko Kebakaran di TPA Pasirbajing Meningkat Selama Kemarau, DLH Garut Siapkan Langkah Mitigasi

(Ale/Radar Garut)
Lokasi pembuangan sampah TPA Pasir Bajing Kabupaten Garut. (Ale/Radar Garut)
0 Komentar

GARUT – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Garut meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pasir Bajing selama musim kemarau.

Kepala DLH Kabupaten Garut, Jujun Juansyah Nurhakim, mengatakan TPA Pasir Bajing menjadi salah satu lokasi yang paling rentan terdampak kondisi kering. Sejumlah letupan kecil bahkan mulai terlihat di area tempat pembuangan sampah tersebut.

Meski demikian, pihaknya belum dapat memastikan penyebab munculnya letupan tersebut, termasuk kemungkinan adanya aktivitas manusia di sekitar lokasi.

Baca Juga:KONI Garut Targetkan Atletik Raih 5 hingga 6 Emas di Porprov Jabar 2026Korsleting Listrik Diduga Picu Kebakaran Rumah di Sucinaraja, Kerugian Ditaksir Rp50 Juta

“Saya juga nggak tahu apakah ada yang iseng atau apa, dari dulu juga nggak pernah ketahuan gitu ya,” katanya kemarin.

Jujun menyebutkan, risiko kebakaran di TPA meningkat karena terdapat gas metana yang dihasilkan dari tumpukan sampah. Kondisi tersebut bertemu dengan udara dari permukaan sehingga kebakaran dapat dengan mudah terjadi apabila terdapat sumber pemicu.

“Tapi yang pasti memang potensi kekeringan atau kebakaran TPA ini sangat besar. Kenapa? Karena dari bawah itu gas metan, dari atas oksigen kan gitu,” sebutnya.

Menurutnya, potensi kebakaran merupakan salah satu risiko yang harus dihadapi DLH setiap musim kemarau. Karena itu, langkah mitigasi perlu dilakukan sejak dini agar api dapat segera dikendalikan dan tidak meluas apabila kebakaran terjadi.

DLH Garut telah menyiapkan sejumlah kebutuhan penanganan darurat, antara lain persediaan air dan tanah urugan. Tanah tersebut dapat digunakan untuk menutup bagian sampah yang terbakar sekaligus membantu menghentikan penyebaran api.

Selain tanah urugan, DLH memiliki dua embung di kawasan TPA Pasir Bajing dengan kapasitas keseluruhan hampir 25 meter kubik. Berdasarkan pengalaman penanganan kebakaran sebelumnya, volume air tersebut setara dengan sekitar lima tangki.

“Jadi saya kira dari pengalaman yang sudah-sudah dengan 25 kubik itu kan kurang lebih sekitar 5 tangki ya gitu, dalam kondisi yang paling parah itu dulu memang sampai 5 tangki ya,” jelasnya.

Baca Juga:Libur Sekolah, Kunjungan ke Taman Satwa Cikembulan MeningkatMiras Dijual COD, Satpol PP Garut Intensifkan Patroli 24 Jam

Persediaan air dan tanah urugan telah disiagakan di kawasan TPA agar dapat segera digunakan ketika dibutuhkan. Kesiapan tersebut diharapkan mampu mempercepat penanganan awal sebelum api membesar dan menyebar ke bagian lain.

0 Komentar