Puluhan Orang Tua Datangi Disdik Garut, Persoalkan Hasil SPMB Jalur Domisili

Radar Garut
Puluhan Orang Tua Datangi Disdik Garut, Persoalkan Hasil SPMB Jalur Domisili
0 Komentar

GARUT – Puluhan orang tua calon siswa bersama komite sekolah dan sejumlah guru mendatangi Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Senin (6/7/2026). Mereka mempertanyakan pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), terutama pada jalur domisili.

Massa berharap dapat bertemu Bupati Garut, Kepala Dinas Pendidikan, kepala bidang, dan pejabat terkait lainnya. Mereka ingin menyampaikan keberatan karena sejumlah calon siswa tidak diterima di sekolah yang berada dekat dengan tempat tinggalnya.

Kekecewaan muncul ketika para orang tua tidak dapat bertemu langsung dengan Bupati maupun Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Asep Wawan Budiman. Mereka telah menunggu cukup lama untuk memperoleh penjelasan mengenai hasil seleksi.

Baca Juga:Relawan MBG Garut Dukung Evaluasi BGN, Desak Kepastian Nasib Program dan DapurKarutan Garut Beri Penguatan kepada Warga Binaan, Tekankan Disiplin dan Perubahan Diri

Wakil Ketua Komite SMPN 1 Garut, Mochammad Mukti Arief, mengatakan kedatangan mereka bertujuan menyampaikan aspirasi orang tua yang anaknya tidak lolos seleksi.

“Ini adalah aspirasi orang tua yang anak-anaknya tidak lolos. Padahal mereka masuk zona yang berada di lingkungan SMPN 1 dan SMPN 2 Garut,” katanya.

Arief mengaku telah mendata sekitar 30 calon siswa di sekitar SMPN 1 Garut yang tidak diterima. Mereka antara lain berasal dari kawasan Paminggir dan wilayah sekitarnya.

“Saya menginventarisasi, kalau dijumlahkan ada sekitar 30 orang. Padahal mereka berada di dalam zona, seperti dari Paminggir dan sekitarnya,” imbuhnya.

Menurut Arief, persoalan tersebut tidak hanya dialami pendaftar SMPN 1 Garut. Ia meminta pemerintah memastikan seluruh lulusan sekolah dasar dapat melanjutkan pendidikan dan tidak masuk kategori anak tidak sekolah (ATS).

“Saya di sini mewakili aspirasi calon siswa SMP negeri yang ada di Garut. Intinya, semuanya harus bisa bersekolah. Jangan sampai ada anak yang tidak sekolah,” tegasnya.

Ia juga meminta kebijakan pemerintah daerah mempertimbangkan kondisi masyarakat.

“Pesan untuk Pak Bupati, kebijakan harus fleksibel dan berpihak kepada masyarakat karena kondisi ekonomi sekarang sedang lemah,” tambahnya.

Baca Juga:Kemarau, Warga Cibunar Manfaatkan Air Selokan untuk MencuciPemuda 19 Tahun Hilang Usai Melompat dari Perahu di Waduk Saguling

Keluhan serupa disampaikan Rahmawati, orang tua calon siswa asal Kecamatan Garut Kota. Anaknya tidak diterima di SMPN 2 Garut karena titik koordinat rumah berjarak sekitar 700 meter dari sekolah, sedangkan batas penerimaan disebut berada pada jarak 560 meter.

0 Komentar