GARUT – Musim kemarau saat ini rupanya mulai berdampak terhadap ketersediaan air di Kampung Sayang, Desa Cibunar, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut. Karena kondisi tersebut, sejumlah warga terpaksa memanfaatkan aliran Selokan Cipacing untuk mencuci pakaian.
Agar air dapat digunakan, warga menyekat badan selokan dengan tembok sederhana. Cara tersebut dilakukan untuk menampung air sebelum dipakai.
Perangkat Desa Cibunar, Agus, mengatakan bahwa air Selokan Cipacing hanya dimanfaatkan warga setempat untuk mencuci. Adapun untuk kebutuhan konsumsi, menurutnya masih dipenuhi dari sumur gali dan sumur bor.
Baca Juga:Pemuda 19 Tahun Hilang Usai Melompat dari Perahu di Waduk SagulingMaroko Melaju ke Perempat Final, Warga Garut Ikut Bersukacita
“Warga menggunakan air Cipacing hanya untuk mencuci. Untuk kebutuhan air minum, mereka menggunakan air sumur gali dan sumur bor,” kata Agus.
Pemerintah desa, disebut Agus telah mengingatkan warga agar tidak menggunakan air selokan untuk mandi, terlebih untuk dikonsumsi. Hal tersebut karena air selokan dinilai telah tercemar limbah rumah tangga sehingga berisiko bagi kesehatan.
Di lokasi lainnya, tepatnya di Kampung Sayang terdapat dua lokasi badan selokan yang disekat warga. Sebelum digunakan, air terlebih dahulu dibiarkan mengendap agar kotoran terpisah.
Sejumlah kampung di Desa Cibunar sebenarnya diketahui telah memiliki sumur bor untuk kebutuhan bersama, termasuk di Salamsatu dan Gentengpacing. Namun, debit air dari sumur bor mengalami penurunan selama musim kemarau.
Kondisi kering juga berdampak terhadap sektor pertanian. Banyak tanaman padi kekurangan air hingga mati sebelum memasuki masa panen.
Akibatnya, sejumlah petani mengalami gagal panen dan menanggung kerugian. Warga berharap tersedia penanganan untuk memenuhi kebutuhan air bersih sekaligus menjaga pasokan air bagi lahan pertanian selama kemarau. (Pepen Apendi)
