Tuan Holla, Sahabat Petani dan Budaya Sunda yang Abadi di Garut

(Istimewa)
Monumen memorial Tuan Holla (Istimewa)
0 Komentar

RADARGARUT– Nama Karel Frederik Holle (1829-1896) masih dikenang masyarakat Priangan, khususnya Garut, sebagai “Tuan Holla” atau bahkan “Sayyid Muhammad bin Holla”.

Orang Belanda kelahiran Amsterdam ini dikenal sebagai juragan teh sekaligus pencinta budaya Sunda yang gigih, yang meninggalkan warisan mendalam di bidang pertanian, pendidikan, dan kesusastraan lokal.

Holle lahir pada 9 Oktober 1829 di Amsterdam dari keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi. Pada usia 14 tahun (1843), ia bersama keluarga berimigrasi ke Hindia Belanda mencari peruntungan baru. Ayahnya, Pieter Holle, sempat mengelola perkebunan kopi, tetapi Karel muda lebih menonjol sebagai pegawai kolonial yang cepat mendalami budaya setempat.

Baca Juga:Respon Keluhan Masyarakat, Pertamina Beberkan Alasan Kenaikan PertamaxRUU Polri Sah! Peyandang Disabilitas Sekarang Bisa Jadi Polisi

Perintis Perkebunan Teh dan Inovator Pertanian

Pada 1858, Holle diangkat sebagai administrator Perusahaan Teh Cikajang. Beberapa tahun kemudian, ia menyewa lahan di lereng Gunung Cikurai, sekitar 13 km selatan Garut, dan mendirikan Perkebunan Teh Waspada.

Perkebunan ini menjadi salah satu pionir produksi teh komersial di Priangan yang kemudian menjadi basis penting industri teh Indonesia. Lebih dari sekadar pengusaha, Holle berperan sebagai “guru pertanian” pertama di Hindia Belanda.

Ia melakukan uji coba teknik bertani modern di perkebunannya, termasuk pembuatan terasering, pemupukan, persemaian bibit padi sebelum ditanam (bukan tebar benih langsung), budidaya ikan air tawar, dan pencegahan erosi tanah.

Hasil pengamatannya ia tuangkan dalam ratusan publikasi, termasuk seri De Vriend van den Landman (Sahabat Petani) yang diterjemahkan ke bahasa Sunda, Jawa, Madura, dan lainnya.

Sistem tanam padi yang ia perkenalkan bahkan disebut masyarakat setempat sebagai “sistem Holle”. Risalah-risalahnya membantu meningkatkan hasil panen dan kesejahteraan petani Sunda yang sebelumnya bertani secara tradisional.

Patron Literasi dan Pelestari Budaya Sunda

Holle sangat fasih berbahasa Sunda dan mendalami naskah-naskah kuno, prasasti, serta sastra Sunda.

Ia bersahabat dekat dengan Haji Muhamad Musa, penghulu Limbangan yang juga penulis produktif. Bersama Musa dan penulis Sunda lainnya seperti Hasan Mustapa, Holle mendorong penerbitan buku-buku bacaan berbahasa Sunda, termasuk fabel Tjarita koera-koera djeng monjet yang menjadi buku pelajaran awal di sekolah-sekolah Priangan.

0 Komentar