Ia mendukung pendidikan guru lokal dan inisiasi sekolah guru di Priangan. Koleksi daftar kosakata bahasa-bahasa daerah yang ia susun (Holle Lists) menjadi bahan penting studi linguistik Indonesia hingga kini.
Dua Wajah: Pecinta Sunda dan Penasihat Kolonial
Meski dicintai banyak masyarakat pribumi karena kepeduliannya, Holle tetap pegawai kolonial. Pada 1871 ia diangkat sebagai Penasihat Kehormatan Urusan Pribumi.
Ia merekomendasikan kebijakan yang bertujuan mengurangi “fanatisme Islam” dengan memisahkan agama dan politik, mendorong penggunaan aksara Latin/Jawa daripada Arab Pegon di sekolah, serta membatasi pengaruh haji-ulama yang baru pulang dari Mekkah.
Baca Juga:Respon Keluhan Masyarakat, Pertamina Beberkan Alasan Kenaikan PertamaxRUU Polri Sah! Peyandang Disabilitas Sekarang Bisa Jadi Polisi
Pandangan ini kontroversial, tetapi mencerminkan semangat zamannya di mana kolonialisme berusaha mengendalikan pengaruh agama.
Warisan yang Tak Lekang
Holle meninggal dunia pada 3 Mei 1896 di Buitenzorg (Bogor) dalam kondisi yang relatif sederhana. Meski demikian, pada 1899 masyarakat Garut mendirikan monumen obelisk dengan potret bronz-nya di alun-alun kota sebagai tanda terima kasih. Monumen itu sempat hilang namun kisah jasanya tetap hidup dalam ingatan kolektif.
Hingga kini, nama Karel Frederik Holle diabadikan dalam sejarah perkebunan teh, modernisasi pertanian, dan kebangkitan literasi Sunda abad ke-19. Ia menjadi contoh langka kolonialis yang benar-benar “mencintai Sunda” sekaligus bagian tak terpisahkan dari kompleksitas sejarah kolonial Indonesia.
Warisannya mengingatkan bahwa kemajuan pertanian dan pendidikan lokal sering lahir dari perjumpaan budaya yang mendalam, meski dalam bayang-bayang kekuasaan kolonial.(*)
