RADARGARUT– Di tengah euforia global terhadap kecerdasan buatan (AI), muncul kekhawatiran serius tentang terbentuknya “gelembung AI” atau AI bubble.
Istilah ini semakin ramai dibahas setelah peringatan keras dari Igor Sechin, CEO Rosneft sekaligus tokoh penting di sektor energi Rusia, dalam St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026.
Menurut Sechin, dunia saat ini berada di ambang gelembung finansial terbesar sejak booming industri perkeretaapian Amerika Serikat pada abad ke-19. Lonjakan valuasi perusahaan teknologi berbasis AI dinilai tidak lagi realistis dan berpotensi menimbulkan krisis ekonomi jika gelembung tersebut pecah.
Baca Juga:Honda NWF 150 2026 Resmi Rilis: Skutik Retro Baru Dengan Fitur Blind SpotJawa Barat Masuk 3 Besar Provinsi dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi di Indonesia
Apa Itu Gelembung AI?
Gelembung AI merujuk pada kondisi di mana investasi dan ekspektasi terhadap teknologi AI melonjak jauh di atas nilai fundamental serta produktivitas nyata yang dihasilkan.
Banyak perusahaan teknologi besar menggelontorkan ratusan miliar dolar untuk pengembangan infrastruktur AI, seperti pusat data dan chip khusus, sementara hasil bisnis yang konkret masih terbatas.
Sechin menyoroti bahwa empat perusahaan teknologi terbesar saja tahun ini mengalokasikan sekitar 700 miliar dolar untuk kapasitas komputasi. Pangsa pengeluaran modal sektor teknologi Amerika dalam total investasi global telah mencapai rekor 35%, naik drastis dari hanya beberapa persen 15 tahun lalu.
Sementara itu, sepuluh perusahaan teknologi terbesar di pasar saham AS kini menguasai lebih dari 40% kapitalisasi, dan angka itu diprediksi mendekati 50% jika perusahaan seperti OpenAI, Anthropic, dan SpaceX semakin dominan.
“Perusahaan-perusahaan terkait AI saat ini mengonsumsi sebagian besar sumber daya investasi, dengan mengorbankan sektor ekonomi lainnya,” ujar Sechin dalam panel energi SPIEF.
Dampak terhadap Sektor Energi dan Ekonomi Global
Peringatan Sechin tidak hanya soal valuasi saham, tapi juga implikasi terhadap kebutuhan energi. Ledakan AI membutuhkan listrik dalam skala masif untuk menjalankan server dan pusat data.
Hal ini memperburuk kekurangan investasi di sektor energi konvensional, yang disebabkan oleh euforia transisi energi hijau yang terlalu cepat.
Baca Juga:BMKG Peringatkan Hujan Lebat 8-9 Juni 2026, Ini Daftar Wilayah Siaga dan Potensi DampaknyaPenghentian Sementara MBG Dinilai Bisa Jadi Solusi Penguatan Rupiah dan IHSG
Bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, isu ini sangat relevan. Pertumbuhan ekonomi digital, e-commerce, fintech, dan adopsi AI memerlukan pasokan energi yang stabil. Jika gelembung pecah, dampaknya bisa meluas yaitu koreksi tajam di pasar saham, pengurangan investasi teknologi, hingga perlambatan pertumbuhan ekonomi global.
