Sejarah mencatat bahwa gelembung serupa pernah terjadi pada era dot-com di akhir 1990-an, di mana banyak perusahaan internet bernilai triliunan dolar tapi akhirnya bangkrut ketika realitas tidak sesuai ekspektasi. Banyak analis khawatir skenario serupa bisa terulang di era AI.
Peluang dan Risiko di Balik Hype AI
Di sisi lain, AI tetap menawarkan potensi revolusioner. Teknologi ini telah mengubah berbagai sektor, mulai dari manufaktur, kesehatan, hingga layanan keuangan.
Di Indonesia sendiri, perusahaan BUMN seperti Telkom, Pertamina, dan BRI semakin agresif mengadopsi AI untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing.
Baca Juga:Honda NWF 150 2026 Resmi Rilis: Skutik Retro Baru Dengan Fitur Blind SpotJawa Barat Masuk 3 Besar Provinsi dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi di Indonesia
Namun, pakar menekankan pentingnya pendekatan yang bijak. Alih-alih terjebak dalam hype jangka pendek, investasi AI harus difokuskan pada inovasi yang benar-benar menciptakan nilai tambah dan produktivitas.
Pemerintah dan pelaku bisnis perlu mempersiapkan regulasi, infrastruktur energi, serta SDM yang mumpuni agar tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tapi juga pemain yang kompetitif.
Peringatan Igor Sechin di SPIEF 2026 menjadi pengingat penting bahwa di balik kemajuan teknologi yang spektakuler, ada risiko gelembung spekulatif yang bisa mengguncang stabilitas ekonomi dunia.
Saat ini, kewaspadaan dan strategi jangka panjang menjadi kunci agar revolusi AI tidak berakhir dengan kekecewaan massal. Masyarakat, investor, dan pemerintah perlu tetap optimistis tapi realistis menghadapi masa depan teknologi ini.(*)
