RADARGARUT– Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan fakta yang cukup mengkhawatirkan bagi Jawa Barat. Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2026, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Provinsi Jawa Barat mencapai 6,64 persen.
Angka ini menempatkan Jabar di peringkat ketiga sebagai provinsi dengan tingkat pengangguran tertinggi se-Indonesia.
Posisi Jawa Barat berada di bawah Papua yang mencatat TPT tertinggi sebesar 7,02 persen dan Kepulauan Riau di urutan kedua dengan 6,87 persen. Sementara itu, rata-rata TPT nasional berada di level 4,68 persen, sehingga pengangguran di Jabar masih berada di atas rata-rata nasional.
Baca Juga:Timnas U19 Indonesia Sukses Taklukkan Vietnam 2-1KA Cikuray Ekonomi Kerakyatan Resmi Hadir 10 Juni 2026
TPT sendiri didefinisikan sebagai persentase penduduk usia kerja yang tidak bekerja tapi sedang aktif mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha, atau sudah mendapat pekerjaan namun belum mulai bekerja. Data Sakernas Februari 2026 ini menjadi gambaran kondisi ketenagakerjaan pasca-libur panjang dan awal tahun yang biasanya mengalami dinamika tersendiri.
Faktor Penyebab Tingginya Pengangguran di Jawa Barat
Meskipun secara nasional tren pengangguran menunjukkan penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, Jawa Barat justru menghadapi tantangan yang lebih kompleks.
Sebagai provinsi penyangga Ibu Kota Jakarta dengan kawasan industri besar seperti Bekasi, Karawang, Purwakarta, dan Cikarang, Jabar terus menjadi tujuan utama urbanisasi dan migrasi tenaga kerja dari berbagai daerah.
Ketua Asosiasi Pelaku Usaha Desa Seluruh Indonesia (APUDSI) Jawa Barat, Aboy Maulana, menjelaskan bahwa pertumbuhan angkatan kerja yang sangat pesat sering kali tidak diimbangi dengan penciptaan lapangan kerja baru yang memadai.
“Jawa Barat menjadi magnet bagi pencari kerja dari berbagai provinsi. Namun, jumlah pencari kerja yang masuk terus meningkat, sementara perluasan industri dan investasi belum cukup cepat menyerap semuanya,” ujar Aboy.
Selain itu, terdapat kesenjangan kompetensi (skill mismatch) yang menjadi masalah klasik. Banyak industri di Jabar membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan teknis dan digital tertentu, sementara sebagian besar pencari kerja, terutama lulusan SMA/sederajat, belum memiliki kualifikasi yang sesuai. Hal ini menyebabkan banyak posisi lowong tetap sulit terisi, sementara pengangguran terdidik justru meningkat.
