Dinkes Catat 112 Kasus Campak dan Rubela, Didominasi Wilayah Garut Selatan

(Istimewa)
Kasus campak di Indonesia naik drastis di tahun 2026 (ilustrasi/Istimewa)
0 Komentar

GARUT– Kasus campak dan rubela di Kabupaten Garut mengalami peningkatan sejak awal tahun 2026. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Garut tercatat sebanyak 112 kasus terkonfirmasi, terdiri dari 110 kasus campak dan 2 kasus rubela.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinkes Garut, Dr. Asep Surahman, menyampaikan bahwa seluruh kasus tersebut telah dipastikan positif melalui pemeriksaan di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Jawa Barat.

“Seluruh pasien dirawat di puskesmas dan rumah sakit, semuanya sudah dinyatakan sembuh,” ujarnya, Selasa 5 Mei 2026.

Baca Juga:Disdik Kabupaten Garut Siap Tindak Lanjuti Revitalisasi RKBAturan WFH ASN Di Garut Terus Berjalan, Pemkab Siap Evaluasi Penggunaan BBM Dan Energi Listrik

Menurutnya, kasus ini mulai terdeteksi sejak Januari dan tersebar di hampir seluruh kecamatan di Garut.

Wilayah selatan seperti Pameungpeuk, Cisompet, Cibalong, dan Cikelet menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi dibandingkan wilayah Garut tengah dan utara.

Ia menjelaskan, bahwa campak dan rubela memiliki gejala yang hampir sama.

Namun, perbedaan keduanya hanya dapat dipastikan melalui hasil laboratorium karena disebabkan oleh virus yang berbeda.

“Yang membedakan hasil labnya, virusnya terpisah. tapi rubela lebih berbahaya. Dua-duanya menular lewat percikan air liur, batuk, bersin, lewat pernapasan,” jelasnya.

Dr. Asep menyebutkan, bahwa mayoritas kasus terjadi pada anak usia 1 hingga 5 tahun, dengan persentase mencapai sekitar 70 persen.

Tak hanya menyerang anak usia tersebut, saat ini juga terjadi pergeseran kasus ke kelompok usia dewasa, yakni antara 15 hingga 40 tahun.

Baca Juga:Naik Rp30.000 Setelah Tertekan, Ini Harga Emas 6 Mei 2026Mengenali Hantavirus Dan Cara Penyebarannya

“Ini dimungkinkan karena status imunisasinya yang tidak lengkap, jadi daya tahan tubuhnya anak-anak tidak ada untuk campak dan rubela, terutama untuk campak,” ungkapnya.

Selain imunisasi, lonjakan kasus juga dikarenakan meningkatnya mobilitas masyarakat saat momen Lebaran.

Ia mengungkapkan, bahwa sebelumnya, kasus hanya berkisar 1 sampai 2 kasus saja, namun saat momentum lebaran jumlahnya meningkat signifikan.

Ia mengatakan, dari total ratusan kasus campak, sekitar 65 persen kasus terjadi pada anak laki-laki.

“Karena anak laki-laki suka bermain keluar, bergaul. Jadi mayoritas laki-laki yang terkena,” katanya.

Saat ini, upaya pencegahan terus digencarkan melalui program imunisasi massal. Sebanyak 168.383 anak balita usia 9 hingga 59 bulan menjadi sasaran program tersebut.

Hingga saat ini, jangkauan imunisasi telah mencapai 94,05 persen dan ditargetkan menembus 95 persen dalam waktu dekat.

0 Komentar