Jaga 856 Hektare Hutan, Desa Sukamurni Garut Kembangkan Wisata Berbasis Kearifan Leluhur Sunda

istimewa
Jaga 856 Hektare Hutan, Desa Sukamurni Garut Kembangkan Wisata Berbasis Kearifan Leluhur Sunda
0 Komentar

Sebab, pengetahuan lokal yang selama ini hidup dalam keseharian masyarakat belum tentu dapat disampaikan dengan cara yang mudah dipahami orang luar.

Karena itu, pelatihan dan peningkatan kapasitas warga menjadi bagian penting dalam pengembangan konsep wisata desa tersebut.

“Karena cerita ini jadi potensi wisata, makanya ada pelatihan, peningkatan kapasitas warga,” ujarnya.

Baca Juga:Taktik Jitu Igor Tolic Bawa Persib Ukir Sejarah di Australia, Menalo Ungkap Kunci Kebangkitan Maung BandungDari Becak Listrik hingga Bunga untuk Pengendara, Polantas di Garut Mengajak Warga Tertib Berlalulintas

Pengembangan wisata Desa Sukamurni juga mendapatkan perhatian dari kalangan akademisi melalui Locus Perhutanan Sosial School of Business and Management (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ketua Locus Perhutanan Sosial SBM ITB, Juliansyah Putra, mengatakan pengembangan pariwisata di kawasan Perhutanan Sosial perlu memperhatikan keseimbangan antara peningkatan ekonomi masyarakat dan upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Menurutnya, keberhasilan pemberdayaan masyarakat tidak semata-mata diukur dari bertambahnya aktivitas ekonomi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mempertahankan fungsi ekologis kawasan dan pengetahuan tradisionalnya.

“Kita perlu memastikan penguatan ekonomi masyarakat berjalan seiring dengan perlindungan ekologi dan keberlanjutan pengetahuan lokal,” katanya.

Untuk mendukung pengembangan konsep tersebut, SBM ITB melalui program societal impact melakukan pendampingan dengan melibatkan sejumlah lembaga dan perguruan tinggi.

Kolaborasi tersebut mencakup Universitas Gadjah Mada, Yayasan Sri Manganti Lestari, BIPP, serta Universitas Garut (Uniga).

Pendampingan dilakukan untuk memperkuat kajian mengenai kondisi sosial, budaya, dan ekologis sebagai dasar pengembangan wisata yang berkelanjutan.

Baca Juga:Comeback Dramatis di Australia! Persib Bandung Taklukkan Melbourne Victory 2-1 dan Pastikan Tiket 16 Besar ACLPMII Garut Sindir Dispora Jadi 'Dispornak', Karena Anggarkan Rp2,8 Milyar untuk Hewan Ternak

Anggota tim societal impact Locus Perhutanan Sosial SBM ITB, Erlangga Mahardika, mengatakan keterlibatan peneliti dari berbagai disiplin diperlukan agar pengembangan wisata tetap memperhatikan karakteristik masyarakat dan kondisi lingkungan setempat.

“Mitra dan peneliti lintas disiplin kami gandeng agar pengembangan wisata desa ini tidak hanya mempertimbangkan aspek wisata, tapi juga konteks sosial, budaya dan ekologis,” jelasnya.

Dengan konsep tersebut, Desa Sukamurni berupaya membangun kegiatan pariwisata yang tidak menjadikan alam semata-mata sebagai objek eksploitasi ekonomi.

Sebaliknya, kawasan hutan, tradisi, dan kehidupan masyarakat dijadikan sumber pengetahuan yang dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendorong pelestarian lingkungan.

Bagi masyarakat Sukamurni, wisata bukan tentang seberapa banyak pengunjung yang datang, tetapi bagaimana setiap orang yang berkunjung dapat memahami nilai kehidupan yang selama ini diwariskan leluhur Sunda.

0 Komentar