Selain menjadikan hutan sebagai ruang pembelajaran, LPHD Berkah Tani juga melakukan pemetaan potensi sosial dan ekonomi masyarakat di setiap rukun warga (RW).
Tujuannya agar manfaat kegiatan pariwisata tidak hanya terpusat di kawasan hutan, tetapi juga dapat menjangkau kehidupan masyarakat desa.
Salah satu potensi yang ditemukan adalah aktivitas warga sebagai pedagang cuanki.
Baca Juga:Taktik Jitu Igor Tolic Bawa Persib Ukir Sejarah di Australia, Menalo Ungkap Kunci Kebangkitan Maung BandungDari Becak Listrik hingga Bunga untuk Pengendara, Polantas di Garut Mengajak Warga Tertib Berlalulintas
Menurut Hendra, Desa Sukamurni merupakan salah satu daerah yang memiliki cukup banyak warga berprofesi sebagai pedagang cuanki di berbagai kota di luar Garut.
Cerita mengenai aktivitas ekonomi tersebut dinilai dapat menjadi bagian menarik dalam pengembangan wisata, karena menggambarkan kehidupan dan perjalanan usaha masyarakat setempat.
“Tiap RW punya potensi wisata unggulan yang bisa wisatawan pelajari,” ungkapnya.
Meski memiliki beragam potensi, Hendra menegaskan bahwa pengembangan wisata Desa Sukamurni tidak diarahkan untuk mengejar kunjungan wisatawan dalam jumlah besar.
Masyarakat justru ingin menjaga karakter kehidupan desa agar tidak mengalami perubahan sosial dan budaya yang terlalu besar akibat aktivitas pariwisata.
Karena itu, pembangunan fasilitas wisata dilakukan secara terbatas dengan tetap mempertahankan kondisi lingkungan dan pola kehidupan masyarakat.
“Makanya, tidak banyak infrastruktur yang dibangun. Pengunjung harus menyesuaikan dengan kehidupan orang Sukamurni, karena ini yang jadi daya tariknya,” tegas Hendra.
Baca Juga:Comeback Dramatis di Australia! Persib Bandung Taklukkan Melbourne Victory 2-1 dan Pastikan Tiket 16 Besar ACLPMII Garut Sindir Dispora Jadi 'Dispornak', Karena Anggarkan Rp2,8 Milyar untuk Hewan Ternak
Ketua Baresan Incu Putu Pangauban (BIPP), Anwar Maulana, menilai konsep yang dikembangkan masyarakat Sukamurni dapat menjadi alternatif pariwisata yang lebih memperhatikan kelestarian lingkungan dan budaya.
Menurutnya, pengembangan tempat wisata selama ini kerap berorientasi pada banyaknya pengunjung dan penambahan atraksi.
Padahal, kekayaan pengetahuan masyarakat serta hubungan harmonis dengan alam dapat menjadi potensi yang tidak kalah menarik.
Anwar menyebut Desa Sukamurni memiliki modal berupa kondisi alam yang masih terjaga, tradisi masyarakat, dan cerita-cerita yang diwariskan para orang tua.
“Potensi wisatanya cerita saja, jangan yang lain. Cerita tentang orang Sunda dulu yang hidup harmoni dengan alamnya. Desa Sukamurni ini kan alamnya masih bagus karena masyarakatnya hidup harmoni dengan alam, tidak merusak alam, itu saja yang dijual,” katanya.
Meski demikian, Anwar mengakui pengembangan wisata berbasis cerita membutuhkan peningkatan kemampuan masyarakat dalam menyampaikan informasi kepada pengunjung.
