Jaga 856 Hektare Hutan, Desa Sukamurni Garut Kembangkan Wisata Berbasis Kearifan Leluhur Sunda

istimewa
Jaga 856 Hektare Hutan, Desa Sukamurni Garut Kembangkan Wisata Berbasis Kearifan Leluhur Sunda
0 Komentar

Gunung Cikuray diketahui menjadi kawasan hulu sejumlah aliran sungai, termasuk Cikaengan dan Ciwulan yang mengalir menuju pantai selatan Jawa, serta beberapa sub-DAS Cimanuk yang mengarah ke pantai utara.

Pengetahuan tersebut kemudian menjadi bagian dari pendekatan Patanjala yang membagi ruang berdasarkan kondisi dan fungsi ekologisnya.

Pembagian tersebut mencakup kawasan larangan yang tidak diperbolehkan untuk dimanfaatkan, kawasan tutupan yang pemanfaatannya dibatasi, serta baladahan yang diperuntukkan bagi kegiatan produksi.

Baca Juga:Taktik Jitu Igor Tolic Bawa Persib Ukir Sejarah di Australia, Menalo Ungkap Kunci Kebangkitan Maung BandungDari Becak Listrik hingga Bunga untuk Pengendara, Polantas di Garut Mengajak Warga Tertib Berlalulintas

Melalui pendekatan itu, masyarakat berupaya memastikan aktivitas ekonomi tidak mengganggu kawasan yang memiliki fungsi penting bagi keseimbangan lingkungan.

Bagi pengelola wisata Desa Sukamurni, pengetahuan tersebut tidak hanya dijadikan pedoman dalam mengelola hutan, tetapi juga menjadi materi pembelajaran yang dapat diperkenalkan kepada wisatawan.

Salah satu pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung adalah perjalanan menyusuri kawasan hutan bersama pemandu lokal.

Dalam kegiatan tersebut, wisatawan akan diperkenalkan pada hubungan antara nama sebuah tempat dengan karakteristik alam yang melatarbelakanginya.

Hendra mencontohkan, banyak nama wilayah di Jawa Barat yang menggunakan awalan kata “Ci”. Melalui pengetahuan Patanjala, pengunjung diajak memahami keterkaitan penamaan tersebut dengan kondisi lingkungan dan sumber air.

Hal serupa juga berlaku pada sejumlah nama kampung di Desa Sukamurni yang menurut pengelola memiliki hubungan dengan tanda-tanda alam di sekitarnya.

“Nanti pemandu yang telah dididik akan menjelaskan bagaimana nama suatu tempat identik dengan kondisi alamnya. Ada tanda-tanda alam yang bisa dilihat dan tanda alam itu yang jadi dasar penamaan tempat,” katanya.

Baca Juga:Comeback Dramatis di Australia! Persib Bandung Taklukkan Melbourne Victory 2-1 dan Pastikan Tiket 16 Besar ACLPMII Garut Sindir Dispora Jadi 'Dispornak', Karena Anggarkan Rp2,8 Milyar untuk Hewan Ternak

Hendra mengatakan, wisata tersebut juga menjadi sarana memperkenalkan salah satu etika komunikasi masyarakat Sunda yang dikenal dengan ungkapan “Hamo Dibasa Mun Can Disaba”.

Ungkapan itu mengandung pesan agar seseorang tidak membicarakan sesuatu sebelum mengetahui atau menyaksikannya secara langsung.

“Hamo Dibasa Mun Can Disaba, itu etika komunikasi masyarakat Sunda. Jadi pengunjung bukan hanya dijelaskan, tapi juga bisa melihat langsung tanda atau ciri alam yang jadi alasan penamaan tempat,” jelasnya.

Melalui kegiatan tersebut, pengunjung diharapkan tidak sekadar memperoleh informasi mengenai tradisi, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung dalam memahami hubungan manusia dengan lingkungan.

0 Komentar