Tahun ini terdapat 461 ekor domba yang mengikuti seni ketangkasan, terdiri dari 143 ekor Kelas A, 143 ekor Kelas B, serta 175 ekor Kelas C.
Peserta tidak hanya berasal dari Garut, tetapi juga dari Sumedang, Pangandaran, Bandung, dan sejumlah daerah lainnya.
Selain SKDG, digelar kontes ternak lokal khusus peternak Kabupaten Garut yang diikuti 170 ekor ternak dalam lima kategori.
Baca Juga:Kemarau Picu Krisis Air di Cibiuk dan Leuwigoong, Padi Mengering, Sumur Bor Jadi Harapan WargaPolisi Gelar Razia Miras, Alkohol hingga Tuak Diamankan
Kategori tersebut meliputi Raja Petet Non Poel sebanyak 59 ekor, Raja Petet Satu Pasang Poel 55 ekor, Raja Calon Pejantan atau Raja Kasep dua pasang poel 33 ekor, Raja Pedaging dua pasang poel delapan ekor, serta Ratu Bibit dua pasang poel sebanyak 15 ekor.
“Kalau untuk kontes ternak ini diselenggarakan lokal, jadi peternak yang hanya di Kabupaten Garut saja yang ikut. Tetapi untuk SKDG ini terbuka, jadi ada yang dari Sumedang, Pangandaran, Bandung, jadi banyak. Jadi bukan hanya dari Kabupaten Garut saja,” ujar Asep.
Menurutnya, keberadaan event berpengaruh terhadap peningkatan nilai jual domba unggulan.
“Bahkan ada domba Raja Kasep itu sampai menembus harga 250 juta, 300 juta, apalagi kalau sudah tangkas, ada kemarin itu yang memang tangkasnya bagus, kemudian dombanya betul-betul bagus kasep itu sampai terjual sampai 400 juta. Makanya dengan adanya event seperti ini, harga domba itu betul-betul naik. Kalau sebaliknya kalau tidak ada event ya harga domba tidak akan naik,” tandasnya. (*)
