RADARGARUT– Kapal Motor Penumpang (KMP) Virgo Transport 8 ditemukan dalam kondisi terbalik di perairan Laut Jawa pada Minggu, 13 September 2026. Kapal rute Surabaya–Banjarmasin itu sebelumnya sempat melaporkan menghadapi cuaca buruk sebelum akhirnya kehilangan kontak dan mengalami kemiringan ekstrem.
Berdasarkan laporan, kapal yang dioperasikan PT Virgo Karya Shipping dan dinakhodai Arief Yunianto bertolak dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, pada Sabtu, 12 September 2026.
Kapal ro-ro penumpang ini membawa total 243 orang menurut manifes, terdiri atas 30 kru, 27 mitra kerja kapal, 59 penumpang dewasa, satu anak-anak, serta 126 sopir dan kernet. Selain penumpang, kapal juga mengangkut 89 unit kendaraan.
Baca Juga:Persib Kalah Dramatis 2-1 Oleh Persija di GBKPFI Bentuk Tim di Carita Pantau Pencarian Jurnalis Hilang
Tonase kapal tercatat sekitar 8.540 GT (beberapa sumber menyebut 4.277 GT), dengan nomor IMO 8625179. Kapal buatan Jepang tahun 1987 ini sebelumnya sempat beroperasi di jalur pelayaran Jepang dengan nama lain sebelum melayani rute domestik Indonesia.
Peristiwa bermula saat kapal melaporkan kondisi cuaca buruk di sekitar perairan Masalembo, Laut Jawa. Beberapa jam kemudian, awak kapal menyampaikan perubahan kondisi stabilitas atau “center of gravity” yang menyebabkan kemiringan.
Kontak hilang sekitar pukul 02.00 WITA. Laporan resmi dari General Manager PT Virgo, Yoel Rihi, diterima Kantor SAR Banjarmasin pada pukul 04.10 WITA. Posisi terakhir kapal terdeteksi di koordinat sekitar 4°31’51.82″ LS dan 114°02’06.88″ BT, berjarak kurang lebih 80 mil laut dari Dermaga SAR Basirih, Banjarmasin, atau setara dengan waktu tempuh sekitar lima hingga enam jam.
Patroli udara yang dilakukan Basarnas dan unsur terkait kemudian menemukan kapal dalam posisi terbalik, dengan bagian lambung bawah menghadap ke atas permukaan laut dan kondisi nyaris tenggelam.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa kapal ditemukan terbalik namun belum sepenuhnya tenggelam. Operasi pencarian dan penyelamatan segera digelar secara gabungan melibatkan Basarnas, TNI AL, kapal-kapal niaga yang kebetulan berada di sekitar lokasi, serta dukungan helikopter.
Sejumlah kapal turut membantu evakuasi, di antaranya TB TCP, TB/MT Mauhan, MV Haida, dan KM Cahaya Bahari. Data sementara menunjukkan puluhan hingga ratusan penumpang berhasil dievakuasi dalam beberapa tahap. Awalnya dilaporkan sekitar 103 orang berhasil diselamatkan dengan satu korban meninggal dunia.
