GARUT – Upaya mengurangi persoalan sampah terus dilakukan secara mandiri oleh warga di Desa Sukarasa, RW 01, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut. Sampah rumah tangga yang dikumpulkan dipilah dan diolah, termasuk menjadi pupuk yang kemudian dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian dan permakultur, Kamis, 3 September.
Pengelola pengolahan sampah, Yan Yan Mulyana atau yang akrab disapa Bah Tato (53), mengatakan pengelolaan sampah di lokasi tersebut sudah berjalan sekitar enam tahun. Sementara sistem pengelolaan yang diterapkan saat ini telah berjalan sekitar dua setengah tahun.
Setiap harinya, sekitar tiga kuintal sampah masuk ke lokasi pengolahan. Sampah tersebut berasal dari warga sekitar, pesantren hingga restoran. Dari jumlah tersebut, sampah dipilah menjadi organik, anorganik dan residu.
Baca Juga:Rp51 Miliar Digelontorkan, PUPR Garut Sebut Perbaikan Jalan Kabupaten dan Desa Capai 40 PersenKekeringan di Garut Terus Meningkat, Distan Catat 555 Hektare Lahan Pertanian Terdampak
Sampah organik kemudian diolah menjadi pupuk menggunakan metode open windrow. Proses tersebut dilakukan secara manual dengan memanfaatkan bahan karbon seperti daun kering, sampah organik serta bioaktivator berupa eco enzyme.
“Sehari itu paling banyak 145 organik, 149 residu dan 20 non-organik yang bisa bernilai ekonomis. Jadi total kurang lebih tiga kuintal per hari,” kata Bah Tato.
Menurutnya, pengelolaan sampah tersebut dilakukan dengan kemampuan sendiri tanpa bergantung sepenuhnya kepada bantuan pemerintah.
Bahkan, para pengelola tidak mendapatkan pelatihan khusus dalam menjalankan proses pengolahan sampah.
“Kita tidak berharap dari bantuan, tapi kita mulai dari diri sendiri dulu. Dan alhamdulillah sudah bisa berjalan,” ujarnya.
Namun, di tengah upaya tersebut, Bah Tato berharap pemerintah tidak hanya melihat persoalan sampah sebagai urusan teknis.
Menurutnya, petugas sampah memiliki peran penting karena menjadi pihak yang berhadapan langsung dengan masyarakat dalam mengedukasi dan mengajak warga memilah sampah sejak dari rumah.
Baca Juga:Wacana Pilkada 2029 Dipilih Oleh DPRD, KPU dan Bupati Garut Masih Tunggu AturanPerda PKL Akan Segera Terbit, Disperindag Garut Sebut Bahas Semua Aspek Bukan Hanya Penertiban
Dia berharap perhatian pemerintah terhadap petugas sampah dapat ditingkatkan, terutama dari sisi kesejahteraan.
“Yang saya butuhkan perhatian pemerintah kepada petugas-petugas sampah sebagai ujung tombak. Karena kami mengedukasi warga, tetapi selama sampah menjadi urusan petugas sampah, kebijakan yang terpinggirkan dan sebatas hal teknis semata, maka masalah sampah akan terus berlanjut,” tuturnya.
Bah Tato menilai peningkatan kesejahteraan petugas sampah penting agar mereka dapat terus menjalankan tugas sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat.
