Menurutnya, persoalan sampah tidak akan selesai hanya dengan menyediakan tempat pengolahan atau alat pendukung. Kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari rumah juga harus terus dibangun.
Selama sekitar dua setengah tahun sistem tersebut berjalan, baru sekitar 24 persen warga yang dinilai sudah melakukan pemilahan sampah dengan baik dan benar.
Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah di lingkungan tersebut.
Baca Juga:Rp51 Miliar Digelontorkan, PUPR Garut Sebut Perbaikan Jalan Kabupaten dan Desa Capai 40 PersenKekeringan di Garut Terus Meningkat, Distan Catat 555 Hektare Lahan Pertanian Terdampak
“Kendala terbesar itu sebetulnya kesadaran warga. Bagaimana kita membangun kesadaran, bagaimana mereka mulai memilah sampah dari rumahnya masing-masing,” katanya.
Bah Tato berharap apa yang dilakukan secara mandiri di Desa Sukarasa dapat mendapat perhatian dan dukungan lebih dari pemerintah.
Dia juga berharap, pola pengelolaan serupa bisa diterapkan di wilayah lain sehingga persoalan sampah di Kabupaten Garut dapat ditangani bersama.
“Dengan data kita bisa menganalisa dan mengevaluasi. Saya berharap semoga apa yang kami lakukan di sini akan diikuti oleh tempat-tempat lain, khususnya Kabupaten Garut,” pungkasnya. (*)
