81 Tahun Merdeka, Sudahkah Kemerdekaan Sampai ke Tangan Rakyat?

Radar Garut
Lutffi Muchtar Dabigie, S.A.P. (Sekretaris DPC GMNI Garut)
0 Komentar

Padahal, kemerdekaan adalah proses.

Penjajahan hari ini memang tidak lagi selalu hadir dalam bentuk tentara asing yang menduduki wilayah. Ia dapat hadir melalui ketergantungan ekonomi, ketimpangan penguasaan sumber daya, ketidakadilan struktural, bahkan melalui cara berpikir yang membuat bangsa sendiri merasa lebih rendah dibandingkan bangsa lain.

Karena itu, gagasan Trisakti Soekarno berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan masih relevan untuk direnungkan.

Kemerdekaan tidak cukup hanya dengan memiliki pemerintahan sendiri. Bangsa yang merdeka harus mampu menentukan arah politiknya, mengelola sumber daya untuk kepentingan rakyatnya, sekaligus memiliki kepercayaan diri terhadap identitas dan kebudayaannya sendiri.

Dengan perspektif tersebut, revolusi bukanlah sekadar sejarah masa lalu.

Ia adalah pekerjaan setiap generasi.

Baca Juga:Memutus Rantai: Ketika Seorang Ibu Memilih Tidak Mewariskan Pola Asuh yang Sama65 Persen Pemilih Garut pada 2029 Diprediksi Pemilih Pemula, Berpotensi Ubah Arah Kekuasaan

Merdeka Juga Berarti Membebaskan Pikiran

Ada bentuk penjajahan yang lebih sulit dilihat: penjajahan mental.

Ratusan tahun kolonialisme meninggalkan warisan psikologis yang tidak mudah hilang. Rasa rendah diri, ketergantungan terhadap standar asing, kecenderungan menerima ketidakadilan sebagai sesuatu yang biasa, hingga budaya politik yang membuat rakyat merasa tidak memiliki kuasa atas masa depannya sendiri merupakan persoalan yang harus dihadapi.

Membangun manusia merdeka karena itu tidak cukup hanya melalui pembangunan ekonomi.

Pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu berpikir kritis. Demokrasi harus memberikan ruang bagi rakyat untuk berpartisipasi. Negara harus membuka akses yang adil terhadap sumber daya dan kesempatan.

Sebab rakyat yang secara ekonomi tidak berdaya akan sulit menjadi warga negara yang benar-benar merdeka. Sebaliknya, masyarakat yang tidak memiliki kesadaran kritis juga mudah dimanipulasi oleh kekuasaan dan kepentingan modal.

Membumikan Kemerdekaan

Lantas, apa yang harus dilakukan?

Setidaknya terdapat tiga pekerjaan besar.

Pertama, membangun keadilan ekonomi. Sumber daya dan kesempatan ekonomi harus dapat diakses secara lebih merata. Petani, nelayan, buruh, pelaku usaha kecil, dan pekerja informal harus mendapatkan perlindungan serta ruang tumbuh yang layak.

Kedua, melakukan dekolonisasi mental. Pendidikan harus membentuk manusia yang percaya diri, kritis, mandiri, sekaligus memiliki kesadaran kebangsaan.

Ketiga, memperkuat partisipasi rakyat.

Baca Juga:Atam, Pejuang yang Gugur di Leuwigoong Jejaknya yang Masih Dijaga WargaPAD Garut Tembus 50 Persen, Bapenda Bidik Capaian di Atas 90 Persen

Demokrasi tidak boleh berhenti di bilik suara setiap lima tahun. Rakyat harus memiliki ruang untuk mengawasi kekuasaan, menyampaikan kritik, terlibat dalam pengambilan keputusan publik, dan menentukan arah pembangunan di lingkungannya.

0 Komentar